Jakarta, baliwakenews.com – Praktik membersihkan atau merawat vagina dengan cara yang keliru dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari iritasi hingga infeksi. Pakar kesehatan reproduksi mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan dalam memperlakukan organ reproduksi tersebut.
Menurut Prof. Dr. dr. Wachyu Hadisaputra, Sp.OG-KFER, salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan adalah penggunaan sabun berpewangi atau produk pembersih kewanitaan yang mengandung bahan kimia keras.
“Vagina sebenarnya memiliki mekanisme pembersihan alami. Penggunaan sabun berpewangi atau cairan antiseptik yang tidak sesuai justru dapat mengganggu keseimbangan flora normal dan menyebabkan infeksi,” jelas Prof. Wachyu.
Selain itu, praktik vaginal douching atau menyemprotkan cairan ke dalam vagina juga termasuk tindakan yang tidak direkomendasikan. Douching telah terbukti meningkatkan risiko infeksi menular seksual (IMS), penyakit radang panggul, hingga kehamilan ektopik.
Daftar Hal yang Tidak Dianjurkan Dilakukan ke Vagina:
- Menggunakan sabun berpewangi atau antiseptik keras.
- Melakukan vaginal douching atau menyemprot cairan ke dalam vagina.
Menggunakan produk herbal atau ramuan tradisional tanpa pengawasan medis.
Mengaplikasikan bahan-bahan tidak steril seperti pasta gigi atau minyak esensial.
Mengenakan celana dalam terlalu ketat dan berbahan sintetis.
Prof. Wachyu juga menyarankan untuk tidak mempercayai mitos-mitos yang beredar luas di media sosial, seperti memasukkan bahan alami ke dalam vagina dengan dalih mengobati keputihan.
“Alih-alih menyembuhkan, tindakan tersebut bisa menyebabkan iritasi, luka, bahkan membunuh flora normal vagina,” tegasnya.
Masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan, terutama jika mengalami keluhan seperti keputihan abnormal, gatal, nyeri saat berhubungan seksual, atau bau tidak sedap. BWN-01

































