Denpasar, baliwakenews.com – Langit masih gelap, dan jalanan kota belum sepenuhnya terjaga dari kantuk. Di sudut barat Denpasar, tepat di depan Gang IV, Jalan Diponegoro menjadi saksi dari sebuah tragedi yang membungkam pagi. Tiga pemuda melaju dengan sepeda motor Yamaha Nmax, tapi tidak pernah sampai ke tujuan mereka. Perjalanan itu berakhir di belakang sebuah truk sampah yang sedang parkir.
Mereka adalah MAS (21), I Putu ESSP (18), dan KDS. Masih muda. Masih penuh rencana. Tapi waktu mereka habis pada pukul 03.30 WITA, Senin dini hari, 2 Juni 2025.
Sepeda motor yang mereka tumpangi kehilangan kendali. “Dugaan awal, kendaraan oleng ke kiri dan langsung menabrak bagian belakang truk,” kata Kompol Yusuf Dwi Admodjo, Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Denpasar, ketika dikonfirmasi.
Truk itu, dengan nomor polisi DK 8511 A, sedang berhenti di sisi jalan. Tidak rusak, tidak terguling, tidak bergerak. Tapi diamnya menjadi pembuka cerita tragis malam itu. Dua dari tiga remaja itu ESSP dan KDS meninggal di tempat. Luka berat di kepala. MAS sempat dirujuk ke RSUP Prof. Dr. I Gusti Ngoerah, tetapi nyawanya tak bisa diselamatkan.
Tak banyak yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di menit-menit terakhir. Apakah mereka melaju terlalu kencang? Apakah mereka sadar betul bahwa kendaraan mereka tak cukup stabil untuk tiga orang? Apakah malam terlalu lengang hingga membuat mereka lengah?
Kompol Yusuf menyebutkan, pihaknya masih mendalami banyak hal: posisi parkir truk, kondisi lampu hazard, hingga kemungkinan pelanggaran yang dilakukan oleh pengendara motor tidak mengenakan helm, membawa penumpang melebihi kapasitas, atau melaju terlalu cepat.
“Semua masih kami selidiki,” katanya. Sopir truk, seorang pria berinisial NYNG, sedang dimintai keterangan. Saksi-saksi juga diperiksa.
Tapi waktu tak berjalan mundur. Sementara polisi menyusun kronologi, tiga keluarga harus menghadapi pagi yang tidak pernah mereka bayangkan: kehilangan anak laki-laki mereka, sekaligus kehilangan jawaban. Jalanan yang seharusnya membawa anak-anak muda itu ke petualangan baru justru membawa mereka ke akhir yang sunyi.
Di ujung Jalan Diponegoro itu, malam kembali sepi. Tapi bagi yang kehilangan, dentuman pukul 03.30 itu akan selalu hidup dalam ingatan. BWN-01


































