Sobangan, baliwakenews.com
Upaya membangun budaya pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal mulai diperkuat melalui peluncuran Program Yadnya Resik yang digagas Komunitas Laksana Becik di bawah naungan Yayasan Laksana Becik Bali. Program ini hadir sebagai gerakan edukasi bagi masyarakat untuk mengelola sampah sisa upakara secara bertanggung jawab, sekaligus mendukung program Pemerintah Kabupaten Badung dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan lestari.
Pelaksanaan perdana Yadnya Resik berlangsung di Pura Pesimpangan Ulun Danu Beratan, Desa Sobangan, Kabupaten Badung, Rabu (29/7). Kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah hasil upacara keagamaan tidak hanya harus dibersihkan, tetapi juga dipilah dan diolah sejak dari sumbernya.
Ketua Komunitas Laksana Becik, Putu Resa Kertawedangga, mengatakan Bali sebagai daerah dengan aktivitas upacara adat dan keagamaan yang tinggi menghadapi tantangan tersendiri dalam pengelolaan sampah. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar penanganan sampah sisa upakara dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, Yadnya Resik tidak sekadar aksi bersih-bersih, tetapi juga sarana edukasi untuk menanamkan kebiasaan memilah sampah dan meningkatkan kesadaran agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Program ini merupakan upaya memperkuat komitmen masyarakat dalam melakukan pemilahan sampah serta membangun kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan,” ujar Resa.
Dalam pelaksanaannya, Komunitas Laksana Becik menggandeng Sekaa Teruna Girindra Putra Banjar Tegalnaringan, Desa Sobangan. Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung yang menurunkan satu unit mesin pencacah sampah organik guna mengolah sampah upakara langsung di lokasi.
Kolaborasi antara komunitas, organisasi kepemudaan, dan pemerintah daerah dinilai penting untuk memperluas edukasi kepada masyarakat mengenai tata kelola sampah berbasis partisipasi. Resa berharap program serupa dapat diterapkan di berbagai wilayah sehingga masyarakat memperoleh pendampingan dalam mengelola sampah hasil pelaksanaan upacara keagamaan.
“Kami berharap ke depan dapat hadir di lebih banyak desa untuk membantu masyarakat mengelola sampah sisa upakara secara berkelanjutan,” katanya.
Kepala DLHK Kabupaten Badung, Rai Warastuthi, mengapresiasi lahirnya Program Yadnya Resik sebagai bentuk sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah, khususnya sampah upakara yang volumenya cukup besar saat pelaksanaan kegiatan keagamaan.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya melalui kebiasaan memilah antara sampah organik dan anorganik. Langkah sederhana tersebut dinilai mampu mengurangi beban pengangkutan sampah sekaligus meningkatkan peluang pemanfaatan kembali material yang masih bernilai.
DLHK juga mengajak masyarakat menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari budaya sehari-hari, baik di lingkungan rumah tangga maupun saat penyelenggaraan upacara adat dan keagamaan.
Sementara itu, perwakilan masyarakat, Wayan Sumadana, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Laksana Becik Bali yang dinilai membantu masyarakat menangani sampah sisa upakara yang selama ini belum tertangani secara optimal.
Ia berharap Program Yadnya Resik tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan dapat dilaksanakan secara rutin di berbagai desa. Menurutnya, karakter sampah upakara kini tidak lagi didominasi sampah organik, tetapi juga mengandung berbagai jenis sampah anorganik yang membutuhkan penanganan berbeda.
Melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif, Program Yadnya Resik diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk mengelola sampah secara bertanggung jawab. Gerakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan Badung yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. BWN-05

































