Mangupura, baliwakenews.com
Air akhirnya mulai mengalir hingga ke Pecatu. Bukan datang tiba-tiba, bukan pula hasil solusi instan. Di balik aliran 70 liter per detik yang kini mulai dirasakan warga, ada deru pompa, simulasi jaringan berulang, dan keputusan mahal yang diambil di tengah rumitnya perizinan.
Target pemenuhan air bersih Pecatu sejatinya diproyeksikan tercapai Februari. Namun realisasinya datang lebih awal. Sebuah capaian yang, menurut Direktur Utama Perumda Tirta Mangutama Badung I Wayan Suyasa, lahir dari strategi alternatif yang tidak sederhana.
“Sejak awal kami sadar, ini bukan solusi jangka pendek,” ujarnya, saat Rakor dengan Tokoh Kutsel, Jumat (23/1/2026).
Rencana awal bertumpu pada pembangunan jaringan pipa. Namun panjangnya proses perizinan yang melibatkan banyak instansi dan kawasan strategis memaksa Perumda menyiapkan Plan B. Pilihannya jatuh pada sistem perpompaan, dengan investasi hampir Rp16 miliar untuk empat unit pompa lengkap beserta jaringan pendukungnya.
Keputusan itu menjadi titik balik. Sistem pompa memungkinkan distribusi air 70 liter per detik dilakukan lebih cepat, meski tetap dengan catatan: angka itu bukan garis akhir. “Target tercapai bukan berarti selesai. Pertumbuhan penduduk dan pembangunan terus berjalan. Kami harus terus menghitung ulang,” kata Suyasa.
Sejak Desember 2025, simulasi jaringan dilakukan berulang kali. Setiap perubahan munculnya permukiman baru, penambahan pompa, hingga perubahan pola aliran membuat skema distribusi harus disesuaikan kembali. Air di Pecatu tidak sekadar dialirkan, tetapi diatur dengan presisi.
Beberapa wilayah kini mulai terlayani lewat jalur Kampial. Valve tertentu ditutup, bukan untuk membatasi air baku, melainkan agar distribusi bisa difokuskan sesuai kebutuhan wilayah. Semua dilakukan sambil berkoordinasi dengan masyarakat.
Sementara itu, proyek pipa bawah laut masih menunggu jalan panjang perizinan. Tantangannya bukan teknis, melainkan koordinasi lintas instansi. Jalur pipa melintasi kawasan vital bawah tol, jaringan Pertamina, PLN, Telkom, fiber optik, hingga area bandara. “Perizinannya sangat detail. Kemarin saja hampir 20 instansi turun langsung ke lapangan,” ungkap Suyasa.
Meski aliran mulai stabil, pekerjaan belum usai. Gangguan teknis masih kerap muncul material proyek masuk ke pipa, water meter tersumbat, hingga potensi kerusakan pompa. Di wilayah setinggi Pecatu, air harus melewati hingga tujuh kali pompa. Satu gangguan kecil bisa berdampak berantai.
Karena itu, Perumda terus mengingatkan pentingnya tandon air. Bukan sekadar cadangan, tetapi penyangga hidup bagi kawasan tinggi. Pemulihan gangguan air, kata Suyasa, tak bisa secepat listrik.
Pompa cadangan disiapkan, simulasi penutupan jaringan terus diuji. Bahkan faktor eksternal, bencana alam, proyek infrastruktur, pembangunan permukiman, hingga pencurian ikut masuk dalam skenario antisipasi.
Dengan kapasitas 70 liter per detik, Pecatu memang belum sepenuhnya terlayani. Wilayah ujung seperti Cemongkak dan Bhuana Sari masih dalam pemantauan ketat. “Distribusi ini saling terkait. Kalau wilayah bawah stabil, bisa menopang wilayah lain. Itu sebabnya kami terus memantau,” pungkasnya.
Di Pecatu, air yang kini mengalir adalah hasil dari kesabaran, keputusan mahal, dan kerja teknis yang tak selalu terlihat. Sebuah pengingat bahwa di wilayah tertinggi Badung, air bukan sekadar kebutuhan melainkan perjuangan. BWN-04

































