Dari Manajer Travel Agent ke Pertanian Organik, Kamardiyana Kini Rawat Curik Bali dan Mata Air di Pejeng

Iklan Home Page

Gianyar, Baliwakenews.com – Perjalanan I Made Kamardiyana dalam mengabdikan diri kepada Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, tidak berlangsung dalam waktu singkat. Berawal dari keputusan meninggalkan pekerjaan kantoran pada 2016, ia kemudian terjun ke sektor pertanian sebelum mengambil peran lebih jauh dalam pelestarian lingkungan dan potensi desa.

Pria yang akrab disapa Kadek Kamardiyana itu sebelumnya bekerja sebagai manajer di salah satu travel agent. Namun, pada 2016, ia memilih meninggalkan pekerjaannya dan mengembangkan pertanian organik yang diberi nama Mai Organic.

“Tahun 2016 saya berhenti bekerja sebagai manajer di salah satu travel agent. Setelah itu mengembangkan pertanian organik yang dinamakan Mai Organic,” ujarnya.

Setelah Mai Organic berkembang, Kamardiyana kemudian merangkul para pecinta burung melalui upaya pelestarian curik Bali di Pejeng. Bersamaan dengan itu, ia ikut mendorong pelestarian mata air yang dinilai penting bagi kehidupan sosial dan kegiatan keagamaan masyarakat setempat.

Dua mata air yang menjadi perhatian adalah Beji Suganti dan Beji Apit Aungan. Bagi Kamardiyana, pelestarian Beji Suganti tidak terlepas dari pengalamannya ketika menjadi Kelian Dinas Banjar Panglan. Saat itu, ia kerap berkomunikasi dan ngayah bersama masyarakat.

Baca Juga:  Wabup. Suiasa Apresiasi Solidaritas Guru di Badung Kumpulkan Dana Sukarela Peduli Covid-19

Dalam pelaksanaan piodalan ageng di pura dan merajan, terdapat prosesi ngabejian. Ia melihat prosesi tersebut banyak diikuti generasi tua, bahkan tidak jarang mereka mengajak cucu. Hal itu membuatnya berpikir mengenai keamanan dan kenyamanan pamedek yang menggunakan sumber mata air tersebut mengingat kondisi infrastruktur di Beji Suganti yang kurang bersahabat bagi orang tua. Atas dasar itu, ia kemudian mengoordinasikan, merencanakan, dan mengusahakan perbaikan kawasan Beji Suganti yang kini tengah digarap.

Sementara itu, Beji Apit Aungan merupakan tempat pelaksanaan upacara ngening. Kondisinya sempat memprihatinkan setelah mata air rusak akibat tertimpa pohon tumbang. Sampah juga berserakan, sementara tangga yang satu dengan lainnya masih cukup tinggi sehingga menyulitkan pamedek perempuan, terutama ketika membawa perlengkapan upacara. Di sisi lain, lahan di atas kawasan tersebut telah dikuasai investor.

Berangkat dari berbagai persoalan itu, Kamardiyana bersama masyarakat berusaha memperbaiki dan memelihara sumber mata air tersebut agar kembali nyaman digunakan ketika upacara berlangsung. Namun, menurutnya, menjaga kedua beji tersebut tidak cukup dilakukan sekali. Pemeliharaan harus dilakukan secara rutin dan membutuhkan biaya.

Baca Juga:  PKB XLIII Tahun 2021 Jadi Wahana Puncak Kreatifitas Seniman di Masa Pandemi

Salah satu gagasan yang disiapkan adalah mengembangkan wisata spiritual yang pengelolaannya dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pejeng. “Kenapa BUMDes, karena BUMDes bisa mencakup ke semua banjar yang ada di Pejeng,” ujarnya.

Gagasan serupa juga diterapkan dalam pelestarian curik Bali. Ada beberapa alasan yang mendorong Kamardiyana terlibat dalam konservasi burung langka tersebut. Curik Bali merupakan burung langka sehingga memiliki daya tarik bagi banyak orang. Selain itu, generasi muda kini semakin jarang melakukan aktivitas di ruang terbuka.

Pelestarian curik Bali juga diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan potensi budaya dan lingkungan yang dimiliki Pejeng. Konservasi tersebut tentu membutuhkan biaya, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pakan burung. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata dipandang sebagai salah satu sumber pembiayaan, dengan pengelolaan tetap berada di bawah BUMDes.

Kamardiyana yang pernah menjadi dosen tamu bagi mahasiswa asing itu menegaskan bahwa berbagai kegiatan tersebut bukan ditujukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Konsep yang disiapkan justru menempatkan BUMDes sebagai pengelola agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.

Baca Juga:  Wabup Pantau Pelaksanaan Vaksinasi di Benoa dan Jimbaran

Ke depan, pengembangan ketiga potensi utama yaitu pertanian, pelestarian sumber mata air, dan konservasi curik Bali, akan mengadopsi cara-cara yang selama ini dilakukan melalui Mai Organic. BUMDes Pejeng nantinya diarahkan menjadi fasilitator, agen, sekaligus penghubung antara berbagai potensi desa, hasil bumi, dan karya masyarakat dengan agen dari luar negeri maupun konsumen secara langsung.

Dengan konsep tersebut, pengembangan potensi desa diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelestarian, tetapi juga mampu menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa. Hasil yang diperoleh melalui BUMDes akan menjadi pendapatan asli desa.

Selanjutnya, pendapatan tersebut akan dikelola untuk kepentingan masyarakat Pejeng dan mendukung keberlanjutan berbagai program desa. BWN-05

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR