Bangli, baliwakenews.com
Sistem pertanian organik adalah salah satu cara mewujudkan Sad Kertih karena mengatur tehnik bertani dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si., disela-sela pengembangan bawang merah organik di tepian Danau Batur di Desa Buahan, Kintamani, Bangli yang merupakan salah satu upaya mewujudkan Danu Kertih.
Wisnuardhana mengatakan Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang dicanangkan Gubernur Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menuju Bali era Baru, menekankan pada kewajiban krama Bali menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya untuk kesejahteraan lahir bathin. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya meliputi 6 cara mencapai atau penyebab kesejahteraan yaitu Sad Kertih, terdiri dari Jagad, Jnana, Segara, Wana, Atma dan Danu Kertih.
“Sistem pertanian organik menekankan pada tehnik budidaya dengan tidak menggunakan bahan kimia yang dapat menyebabkan pencemaran air, tanah, udara dan keracunan pada makhluk hidup,” tandas Wisnuardhana.
Dalam mengintensifkan pertanian organik, lanjut Wisnuardhana, di Bali telah ditetapkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan oleh pemerintah provinsi Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dalam mengakselerasi dan sosialisasi penerapan sistem pertanian organik.
“Kami telah mengembangkan padi organik seluas 250 Ha, bawang merah organik seluas 1 Ha. Selain itu kaki menyalurkan 30 paket Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO),” ungkapnya.
Lebih lanjut dikatakan Dinas Pertanian telah melaksanakan kegiatan Adaptasi dan Mitigasi perubahan iklim komoditi perkebunan berupa pengembangan pertanian organik integrasi Kopi dengan Kambing.
Untuk kebutuhan pupuk organik, dikatakan pihaknya telah menyediakan pupuk organik bersubsidi dari program pupuk bersubsidi nasional sebanyak 3.639 ton.
“Kami juga sudah menyediakan dan menyalurkan bantuan berbagai jenis pestisida organik untuk pengendalian organisme Pengganggu Tanaman.
Semua kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi dan mengedukasi para petani bagaimana menyiapkan pupuk organik dan mengimplementasikan SOP pertanian organik di lahan usahataninya,” tandasnya.
Khusus untuk pengembangan bawang merah organik di tepian Danau Batur di Desa Buahan, Kintamani, Bangli dikatakan sebagai salah satu upaya mewujudkan Danu Kertih. “Agar para petani bawang merah disekitar Danau Batur dapat secara bertahap melaksanakan pertanian organik pada lahan usahataninya sehingga tidak mengakibatkan pencemaran pada Danau Batur. Kesucian Danau Batur dapat terjaga dan terpelihara secara berkelanjutan, yang telah memberikan kehidupan pada masyarakat sekitarnya,” pungkas Wisnuardhana.*BWN-03


































