baliwakenews.com – Menjelang Hari Raya Galungan, suasana semestinya diwarnai dengan sukacita dan persiapan spiritual. Namun, tak sedikit keluarga di Bali justru mengalami ketegangan dan konflik internal.
Fenomena ini bukan hal baru, dan menurut para ahli serta tokoh masyarakat, situasinya bisa dipahami melalui dua kacamata, psikologis dan mitologis.
Bagi keluarga Bali, Galungan bukan sekadar perayaan, tetapi momen sakral yang menuntut persiapan besar-besaran. Mulai dari membuat banten, membersihkan rumah, hingga menyiapkan makanan tradisional seperti lawar dan sate, semuanya membutuhkan kerja sama intensif antar anggota keluarga.
“Kadang, beban ini tidak terbagi rata. Ibu rumah tangga sering kali memikul tanggung jawab paling besar. Kalau ada yang merasa tidak adil, akhirnya muncul konflik kecil yang bisa membesar,” ungkap Luh Made, seorang ibu rumah tangga di Denpasar.
Selain itu, tekanan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hari raya juga menjadi pemicu. Tidak sedikit keluarga yang merasa terbebani dengan tuntutan sosial untuk tampil “sempurna”, baik dalam bentuk banten yang mewah maupun pakaian baru saat hari raya.
“Ekspektasi masyarakat itu kadang membuat kita merasa harus serba wah, padahal kemampuan terbatas. Ini bisa bikin pasangan suami istri saling menyalahkan,” kata I Ketut Arimbawa, seorang pekerja swasta.
Di balik konflik yang terjadi, masyarakat Bali memaknai ketegangan menjelang Galungan sebagai bagian dari ujian spiritual.
“Dalam ajaran Hindu Bali, Galungan menandai kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan). Menjelang hari raya, energi negatif seperti bhuta kala diyakini aktif menggoda manusia,” jelas Ida Pandita Mpu Nabe, seorang sulinggih (pendeta Hindu).
Beberapa hari sebelum Galungan, umat Hindu memasuki masa-masa spiritual penting seperti Tumpek Bubuh dan Penampahan Galungan. Dalam periode ini, dipercaya bahwa energi alam semesta sedang dalam titik krusial antara kekacauan dan keteraturan.
“Konflik yang muncul dalam keluarga bisa jadi manifestasi pertarungan batin antara ego dan kesadaran. Ini momen ujian, apakah kita siap menyambut leluhur dengan hati bersih atau justru kalah oleh adharma dalam diri,” tambahnya.
Psikolog keluarga, Ni Wayan Saraswati, menyarankan agar keluarga mengambil waktu untuk refleksi dan membagi beban secara adil. “Galungan adalah momen untuk memperkuat ikatan, bukan memecah. Jika ada perbedaan, bicarakan dengan kepala dingin. Jangan sampai stres hari raya justru merusak maknanya,” ujarnya.
Di tengah gegap gempita dan kesibukan jelang Galungan, penting bagi setiap individu untuk menjaga keseimbangan batin. Karena sesungguhnya, kemenangan Dharma dimulai dari dalam diri sendiri dari cara kita mengendalikan emosi dan menjaga harmoni keluarga. BWN-01

































