baliwakenews.com – Di tepian Danau Beratan, Bedugul, deretan bambu kuning tumbuh dengan anggun. Batangnya yang ramping dan berwarna keemasan terlihat kontras dengan birunya air danau serta hijaunya perbukitan di kejauhan. Angin berhembus lembut, membuat daun-daunnya berdesir seperti menyampaikan pesan dari masa lalu.
Menurut warga sekitar, bambu kuning ini telah tumbuh sejak puluhan tahun lalu. Bagi mereka, keberadaannya bukan sekadar penghias alam, tetapi juga simbol perlindungan dan keseimbangan. “Kami percaya bahwa bambu kuning ini membawa energi positif bagi lingkungan sekitar dan menjadi pelengkap keindahan Danau Beratan,” ujar I Made Sudarma, salah satu tokoh masyarakat di Bedugul.
Pak Made bercerita bahwa dahulu, nenek moyang mereka menanam bambu kuning di beberapa titik sekitar danau untuk menjaga kestabilan tanah. “Bambu kuning itu kuat, akarnya saling terhubung, mencengkeram tanah agar tidak mudah longsor,” katanya sambil menunjuk ke deretan batang yang tertanam kokoh di tepi air.
Namun, lebih dari sekadar fungsi ekologis, bambu kuning juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Warga Bedugul kerap menghubungkan tanaman ini dengan unsur keseimbangan dalam hidup. Warna kuningnya dianggap melambangkan cahaya dan ketenangan, sementara kelenturannya mencerminkan kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan.
Di pagi hari, saat kabut masih menggantung di atas danau, pemandangan bambu kuning yang berayun pelan di tepi air menciptakan suasana magis. Beberapa wisatawan yang datang mengaku merasakan ketenangan saat duduk di dekatnya. “Rasanya sejuk dan damai, seperti ada energi yang menenangkan,” ujar salah satu pengunjung asal Jakarta.
Seiring berjalannya waktu, pohon bambu kuning ini tetap tegak, menjadi saksi bisu kehidupan di sekitar Danau Beratan. Bagi masyarakat Bedugul, ia bukan sekadar tanaman, tetapi penjaga yang membawa keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualitas.
Sementara sebagian orang hanya melihatnya sebagai rumpun bambu biasa, bagi warga lokal, ia adalah warisan yang harus dijaga. “Bambu kuning ini adalah bagian dari cerita kami,” kata Pak Made tersenyum. “Semoga tetap lestari untuk anak-cucu nanti.” (aanbagus)


































