Baliwakenews.com — Pernah berniat membuka media sosial hanya untuk melihat satu berita, tetapi tanpa sadar jempol terus menggulir layar hingga puluhan menit? Atau justru semakin banyak membaca kabar buruk, semakin besar pula rasa cemas yang muncul, tetapi tetap sulit untuk berhenti?
Jika pernah mengalaminya, bisa jadi Anda sedang terjebak dalam perilaku yang dikenal sebagai doomscrolling.
Dikutip Alodokter, istilah doomscrolling atau doomsurfing  menggambarkan seseorang yang terus-menerus menelusuri media sosial untuk membaca berita buruk. Fenomena ini kerap dijumpai di masa pandemi, seperti pandemi COVID-19.
Menariknya, orang yang melakukan doomscrolling belum tentu menikmati informasi tersebut. Sebaliknya, kabar yang dibaca justru dapat menimbulkan ketakutan, kecemasan dan tekanan. Namun, rasa penasaran serta keinginan untuk terus mengetahui perkembangan terbaru membuat aktivitas itu sulit dihentikan.
Fenomena ini semakin mudah terjadi di tengah tingginya penggunaan media sosial. Ponsel kini menjadi salah satu sumber utama masyarakat untuk mendapatkan informasi, sementara berbagai platform menyediakan aliran konten tanpa batas melalui fitur infinite scroll.
Satu berita selesai dibaca, berita lain langsung muncul. Begitu seterusnya tanpa ada batas alami yang memberi tanda bahwa pengguna sudah waktunya berhenti.
Doomscrolling bukan semata-mata persoalan berapa lama seseorang menggunakan media sosial. Yang menjadi perhatian adalah pola penggunaan dan jenis informasi yang terus dikonsumsi.
Seseorang bisa saja menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial tanpa melakukan doomscrolling. Sebaliknya, seseorang yang hanya menggunakan media sosial dalam waktu relatif singkat pun dapat terjebak apabila hampir seluruh waktunya digunakan untuk mencari dan membaca informasi negatif secara berulang.
Berbagai kajian mengaitkan doomscrolling dengan meningkatnya kecemasan, perasaan negatif, stres serta menurunnya kesejahteraan psikologis. Hal ini juga menunjukkan kaitan doomscrolling dengan existential anxiety, yakni kecemasan mendalam mengenai masa depan, ketidakpastian dunia dan makna kehidupan.
Dilansir Fakultas Psikologi UI, Indonesia termasuk empat negara dengan pengguna media sosial terbanyak di dunia. Kelompok yang paling aktif adalah Generasi Z, yang sebagian besar menghabiskan waktu antara 1 hingga 6 jam per hari di media sosial.
Paparan berita negatif secara berlebihan juga dapat memicu news-related stress atau stres yang berkaitan dengan konsumsi berita hingga menyebabkan kelelahan mental.
Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi mengganggu konsentrasi, produktivitas dan kualitas tidur.
Siapa yang Lebih Rentan?
Pada dasarnya, doomscrolling dapat dialami siapa saja. Namun, sejumlah kondisi psikologis dan pola penggunaan media sosial dapat membuat seseorang lebih mudah terjebak.
Mereka yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, takut tertinggal informasi atau fear of missing out (FOMO), menggunakan media sosial secara pasif, maupun mengalami kesulitan dalam mengatur emosi disebut lebih rentan mengalami perilaku tersebut.
Ketika media sosial telah menjadi bagian besar dari rutinitas sehari-hari, batas antara kebutuhan mendapatkan informasi dan kebiasaan menggulir layar juga dapat menjadi semakin tipis.
Dampak doomscrolling tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis. Kecemasan dan stres yang muncul akibat paparan informasi negatif secara berlebihan dapat memengaruhi kondisi tubuh. Gangguan tidur, kelelahan, sakit kepala dan terganggunya aktivitas sehari-hari dapat muncul ketika konsumsi informasi sudah tidak terkendali.
Dalam jangka panjang, stres berkepanjangan juga berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan fisik, termasuk tekanan darah tinggi dan masalah kardiovaskular.
Karena itu, kebiasaan membuka ponsel berulang kali untuk mencari berita buruk tidak seharusnya dianggap sepele apabila sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Menghentikan Doomscrolling?
Menghentikan doomscrolling bukan berarti harus berhenti mengikuti berita. Informasi tetap penting agar masyarakat mengetahui perkembangan situasi dan dapat mengambil keputusan secara tepat. Yang perlu dilakukan adalah mengubah cara mengonsumsi informasi.
Pertama, kenali respons diri. Perhatikan perasaan setelah membaca berita. Jika mulai muncul rasa takut, gelisah atau tertekan, berhenti sejenak dan alihkan perhatian.
Kedua, batasi waktu menggunakan media sosial. Fitur screen time pada ponsel dapat dimanfaatkan untuk menentukan batas penggunaan aplikasi.
Ketiga, kelola notifikasi. Tidak semua pemberitahuan harus muncul sepanjang waktu. Matikan notifikasi yang tidak penting agar perhatian tidak terus-menerus tertarik kembali ke layar.
Keempat, berikan jeda dari ponsel setelah bangun tidur. Hindari langsung membuka media sosial ketika baru memulai hari. Memberikan waktu sekitar 30 menit tanpa layar dapat membantu memulai aktivitas dengan kondisi mental yang lebih tenang.
Kelima, pilih sumber informasi secara selektif. Utamakan media dan akun yang kredibel serta menyajikan informasi secara berimbang. Hindari sumber yang hanya memancing kepanikan atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Keenam, ganti kebiasaan menggulir layar. Ketika muncul dorongan membuka media sosial, alihkan dengan aktivitas lain seperti berjalan santai, membaca, berolahraga, menulis, berkebun atau melakukan hobi.
Ketujuh, tentukan ruang bebas ponsel. Misalnya ketika makan, belajar, bekerja, beribadah atau berkumpul bersama keluarga dan teman.
Doomscrolling pada akhirnya bukan hanya soal jempol yang tidak berhenti menggulir layar. Di balik kebiasaan tersebut terdapat pola psikologis yang dapat membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kecemasan dan paparan informasi negatif.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk tahu kapan mencari informasi dan tahu kapan harus berhenti menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. BWN-07

































