Merawat Budaya, Alit Sugiarta Siapkan Munggu di Era Baru

Iklan Home Page

Mangupura, Baliwakenews.com – Kecintaan terhadap seni dan budaya Bali menjadi salah satu modal utama Ir. I Nyoman Alit Sugiarta, ST dalam mengikuti kontestasi Pemilihan Perbekel (Pilkel) Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, tahun 2026. Calon perbekel yang juga tokoh masyarakat Munggu ini ingin membawa desanya memasuki era baru tanpa kehilangan akar budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat setempat.

Alit Sugiarta menegaskan, pencalonannya bukan semata-mata untuk mengejar jabatan. Keinginannya maju sebagai calon perbekel berangkat dari dorongan untuk mengabdikan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki bagi masyarakat.

“Sebagai makhluk sosial, kita mempunyai kewajiban berada di tengah-tengah masyarakat. Apalagi Munggu sekarang berkembang sangat pesat, dinamis dan masif. Saya ingin berkarya dan mengabdikan diri sesuai dengan pengetahuan yang saya dapatkan di universitas dan pengalaman di masyarakat,” ujar Alit saat ditemui, Senin (31/8).

Pengalaman di pemerintahan desa juga menjadi bekalnya. Sebelum maju sebagai calon perbekel, Alit pernah berkiprah sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), khususnya dalam bidang pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut dia, perubahan Munggu yang berlangsung cepat harus diikuti dengan cara berpikir baru. Namun, perubahan tersebut tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari akar adat dan budaya.

Terlebih, Desa Munggu memiliki karakter unik karena satu desa dinas menaungi tiga desa adat, yakni Desa Adat Munggu, Desa Adat Pande dan Desa Adat Kertha Bhujangga. Ketiga desa adat tersebut dinilai menjadi benteng penting dalam menjaga kenyamanan, keamanan sekaligus identitas masyarakat Munggu.

Baca Juga:  Bupati Giri Prasta Hadiri Perekaman Virtual Asti Pradnya Swari Br.  Bualu di Art Centre

“Budaya yang akan menjadi benteng terakhir kita. Karena itu, pengetahuan tentang budaya harus terus dibuka dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Kecintaan Alit terhadap kebudayaan Bali bukan sekadar gagasan dalam kontestasi Pilkel. Ia juga tumbuh dalam lingkungan seni dan budaya Munggu, termasuk sebagai bagian dari regenerasi Sanggar Semarandana Desa Munggu yang selama ini dikenal aktif membawa seni budaya Bali ke berbagai daerah bahkan hingga mancanegara.

Jejak Sanggar Semarandana yang telah tampil sebagai duta budaya di berbagai belahan dunia menjadi salah satu kekuatan yang ingin terus dipertahankan. Bagi Alit, pengalaman tersebut merupakan aset budaya sekaligus modal sosial yang dapat dikembangkan untuk memperkuat posisi Munggu di tengah perkembangan pariwisata.

Karena itu, setelah ditetapkan sebagai calon tetap pada 22 Agustus 2026, Alit mengusung visi “Menuju Munggu Era Baru yang Berbudaya dan Bermartabat.”

Era baru yang dimaksud bukan berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, era baru harus diisi dengan pemikiran baru, inovasi dan kolaborasi, namun tetap berpijak pada karakter budaya Munggu.

“Yang belum ada tentunya kita pikirkan bersama. Yang baru kita bangun bersama. Tetapi tetap berbudaya, karena Munggu mempunyai kekuatan adat dan tradisi yang sangat tinggi,” katanya.

Untuk menerjemahkan visi tersebut, Alit membawa misi “PASTI”, akronim dari pertanian, adat dan budaya, sejahtera dan berkeadilan, teknologi serta digitalisasi dan infrastruktur.

Baca Juga:  Jaga Ketahanan Pangan Desa, Pemdes Darmasaba Panen Bawang Bali

Melalui konsep tersebut, ia ingin potensi desa tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.

“Kita harus menjadi tuan di rumah sendiri. Jangan hanya menjadi penonton dan jangan hanya ikut-ikutan. Semua potensi yang ada harus kita gerakkan, baik pemuda, tokoh masyarakat, lembaga desa maupun komponen lainnya,” ujarnya.

Menurut Alit, pemuda memiliki posisi strategis dalam menghadapi perubahan. Mereka bukan sekadar generasi penerus, tetapi aset desa yang dapat menjadi motor penggerak inovasi, ekonomi kreatif dan pelestarian budaya.

Ia mencontohkan, kuatnya aktivitas adat di Munggu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Kebutuhan terhadap dekorasi, perlengkapan kegiatan adat, seni pertunjukan hingga berbagai produk pendukung kegiatan tradisi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha dan lapangan pekerjaan.

Begitu pula dengan lahan-lahan yang belum produktif. Menurutnya, lahan kering maupun lahan yang belum dimanfaatkan dapat dikembangkan untuk tanaman pisang, bunga dan komoditas lain yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat maupun aktivitas adat.

Tantangan terbesar Munggu ke depan, kata Alit, adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pariwisata dan keberlanjutan budaya serta pertanian.

Sebagai desa wisata, Munggu menghadapi tekanan pembangunan yang berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap lahan. Kondisi tersebut harus diantisipasi agar perkembangan pariwisata tidak justru menggerus ruang pertanian dan identitas budaya.

Baca Juga:  Rute Doha Kembali Normal, Penumpang Terdampak Pembatalan Sudah Ditangani

“Kita tidak bisa membendung perubahan. Yang harus dilakukan adalah membuka pengetahuan, berpikir baru dan menyesuaikan diri dengan perkembangan,” katanya.

Namun, ia menawarkan konsep agar pariwisata justru menjadi bagian dari upaya melestarikan pertanian dan budaya.

Alit membayangkan adanya konektivitas antara sektor pariwisata, pertanian, budaya dan lingkungan. Ketika sektor pertanian membutuhkan dukungan, misalnya, pelaku pariwisata dapat dilibatkan dalam upaya pelestarian lahan pertanian dan lingkungan.

“Pariwisata ikut serta melestarikan alam dan pertanian. Ada konektivitas antara pariwisata, budaya dan pelestarian lingkungan. Itu bisa dibicarakan melalui dialog dan pertemuan sehingga kita menemukan solusi yang tepat untuk masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menilai Munggu memiliki modal budaya yang kuat untuk dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata berbasis budaya. Tradisi Makotek, keberadaan pura-pura, hingga tradisi ayunan yang digelar setiap Galungan merupakan kekayaan yang tidak dimiliki semua desa.

Karena itu, pembangunan Munggu ke depan menurutnya harus menempatkan budaya bukan sebagai pelengkap pariwisata, melainkan sebagai fondasi utama.

“Budaya bukan hanya tontonan. Budaya harus menjadi kekuatan dan benteng Munggu. Kita boleh maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi identitas kita sebagai masyarakat Munggu dan sebagai orang Bali jangan sampai hilang,” pungkasnya. BWN-05

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR