Bangli, Baliwakenews.com
Peringatan 100 Tahun Rarud Batur tidak berhenti sebagai refleksi sejarah. Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur justru melahirkan rekomendasi strategis yang akan menjadi fondasi penyusunan Roadmap Batur 2026–2045, sebuah arah baru pembangunan kawasan Batur yang terpadu, berkelanjutan, dan berbasis sejarah serta budaya.
Hasil seminar yang digelar di Bangli, Minggu (2/8/2026), akan disampaikan kepada Pemucuk Jero Gede Batur sebagai pertimbangan moral dan kultural sebelum diteruskan kepada Gubernur Bali sebagai landasan awal penyusunan kebijakan lintas sektor.
Mengusung tema “Citra Masa Lalu, Tantangan Masa Kini, dan Peluang Masa Depan”, seminar mempertemukan akademisi, tokoh adat, pemerintah, hingga masyarakat untuk menyusun arah masa depan kawasan Batur.
Forum menegaskan bahwa Rarud Batur 1926 bukan sekadar kisah perpindahan warga akibat erupsi Gunung Batur. Peristiwa itu menjadi tonggak yang membentuk kembali ruang hidup, sistem adat, nilai budaya, hingga identitas masyarakat Batur yang masih bertahan hingga kini.
Karena itu, para peserta sepakat bahwa peringatan satu abad Rarud harus menjadi momentum mengubah cara pandang, dari sekadar mengenang sejarah menjadi pijakan menyusun kebijakan pembangunan berbasis pembelajaran sejarah.
Dalam rekomendasinya, kawasan Batur dipandang sebagai satu kesatuan lanskap yang menghubungkan Gunung Batur, Danau Batur, kawasan suci, situs sejarah, pertanian, permukiman, pariwisata, hingga kehidupan sosial masyarakat. Pembangunan yang memisahkan aspek budaya, spiritual, geologi, ekologi, sosial, dan ekonomi dinilai berpotensi menghilangkan identitas kawasan sekaligus memperbesar risiko kerusakan lingkungan.
Tiga Pilar Roadmap Batur 2045
Seminar merekomendasikan penyusunan Roadmap Batur 2026–2045 dengan tiga pilar utama, yakni Batur Lestari yang menitikberatkan pada pelindungan sejarah, budaya, dan ekologi; Batur Matangi yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat, pendidikan, mitigasi bencana, serta kelembagaan; dan Batur Ngawerdi yang diarahkan untuk memperkuat kesejahteraan melalui pertanian, pariwisata, ekonomi kreatif, serta investasi yang bertanggung jawab.
Berbagai rekomendasi juga disampaikan para narasumber dari beragam disiplin ilmu.
Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si. memandang Rarud sebagai peristiwa budaya dan spiritual yang membentuk hubungan manusia dengan ruang suci. Ia mengusulkan penyusunan Piagam Etika Pembangunan Batur, pusat dokumentasi budaya, pendidikan Bebaturan bagi generasi muda, hingga forum koordinasi lintas unsur adat, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Sementara itu, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A. menegaskan bahwa Gunung Batur merupakan kosmologi, sumber kehidupan, memori kolektif, sekaligus identitas masyarakat. Ia mendorong penyusunan Blueprint Mitigasi Berbasis Sejarah dan Kebudayaan, pusat memori Rarud, serta penguatan riset berkelanjutan mengenai kawasan Batur.
Di bidang lingkungan, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S. menempatkan Danau Batur sebagai jantung kehidupan kawasan. Ia menyoroti berbagai persoalan yang kini dihadapi, mulai dari penurunan kualitas danau, kesehatan tanah, krisis lahan dan air, regenerasi petani, hingga pengelolaan limbah dan ketahanan pangan.
Jero Penyarikan Duuran Batur menekankan pentingnya menjadikan pengetahuan lokal sebagai dasar kebijakan. Rajapurana, lontar, prasasti, ritus, tradisi lisan, hingga memori keluarga dinilai harus didokumentasikan melalui penyusunan Naskah Induk Sejarah dan Tata Nilai Batur, peta budaya-spiritual, arsip digital, Rumah Memori Rarud, serta revitalisasi hubungan pasihan.
Dari sisi geologi dan kebencanaan, STJ. Budi Santoso mengingatkan bahwa status Geopark harus diwujudkan dalam konservasi, pendidikan, keselamatan, dan pembangunan masyarakat. Ia mengusulkan penyusunan Rencana Aksi Geologi, Geopark, dan Ketangguhan Bencana, atlas risiko, sekolah lapang geologi, SOP pendakian, hingga sertifikasi pemandu wisata.
Seminar juga mengidentifikasi berbagai tantangan yang harus segera diatasi, mulai dari degradasi ekosistem Gunung dan Danau Batur, tekanan pembangunan dan investasi, ancaman bencana, penurunan kualitas lingkungan, hingga mulai pudarnya pengetahuan generasi muda terhadap sejarah dan budaya Batur.
Seluruh persoalan tersebut akan menjadi dasar penyusunan roadmap agar pembangunan kawasan berlangsung secara terukur, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Melalui Seminar Nasional Seratus Tahun Rarud Batur, para peserta menegaskan komitmen bersama menjadikan sejarah sebagai sumber pengetahuan dan pengetahuan sebagai dasar kebijakan. Harapannya, Batur dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati diri, menjaga kelestarian alam, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga 2045. BWN-03
































