Banyuwangi, Baliwakenews.com
Siapa yang tak mengenal Banyuwangi? Dahulu, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini kerap dikaitkan dengan cerita mistis dan stigma santet yang melekat kuat di benak masyarakat. Namun dalam dua dekade terakhir, Banyuwangi berhasil membalikkan keadaan. Kini, daerah tersebut lebih dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, pusat ekonomi kreatif, pelopor inovasi pelayanan publik, hingga contoh tata kelola pemerintahan yang baik di Indonesia.
Perubahan citra itu bukan terjadi secara kebetulan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara konsisten membangun identitas daerah melalui strategi branding yang kuat, promosi berkelanjutan, serta pelibatan masyarakat dalam pembangunan.
Sekretaris Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Banyuwangi, Rahmawati Setyoardini, menjelaskan bahwa identitas utama Banyuwangi saat ini adalah “The Sunrise of Java”.
“Branding utama Banyuwangi adalah The Sunrise of Java karena kami berada di ujung timur Pulau Jawa, tempat pertama matahari terbit. Filosofi ini mengandung makna bahwa masyarakat Banyuwangi harus selalu bergegas, bergerak lebih awal, dan bekerja keras karena menjadi yang pertama menerima matahari di Pulau Jawa,” ujarnya saat menerima rombongan studi tiru Pemkab Buleleng bersama awak media di Lobi Kantor Bupati Banyuwangi, Rabu (10/6/2026).
Bagi Banyuwangi, branding bukan sekadar slogan promosi. Filosofi tersebut ditanamkan sebagai etos kerja masyarakat untuk terus berinovasi, adaptif terhadap perubahan, dan berani bersaing.
Tak berhenti di sana, Banyuwangi juga memperkuat identitasnya melalui branding Majestic Banyuwangi, yang lahir dari kajian bersama konsultan internasional yang difasilitasi Kementerian Pariwisata pada masa kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas.
“Dari hasil kajian tersebut lahirlah branding Majestic Banyuwangi yang menggambarkan kemegahan alam dan budaya yang kami miliki,” kata Rahmawati.
Konsep itu terinspirasi dari kekayaan bentang alam Banyuwangi yang lengkap. Mulai dari megahnya Kawah Ijen, pegunungan hijau, hutan tropis, hingga garis pantai dan lautan yang membentang luas.
“Banyuwangi memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Potensi inilah yang menjadi dasar lahirnya branding Majestic Banyuwangi,” jelasnya.
Namun, kekuatan Banyuwangi tidak hanya terletak pada panorama alamnya. Daerah ini juga berhasil menjaga akar budaya sebagai identitas yang terus hidup. Kesenian Gandrung, tradisi masyarakat Osing, hingga berbagai ritual adat tetap dilestarikan dan dikemas menjadi daya tarik wisata.
Melalui agenda tahunan Banyuwangi Festival (B-Fest), berbagai pertunjukan seni, budaya, olahraga, hingga ekonomi kreatif dipromosikan secara masif. Event seperti Gandrung Sewu di tepi pantai dan keberadaan Taman Gandrung Terakota berhasil menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.
Strategi promosi digital yang dilakukan secara konsisten pun membuahkan hasil. Banyuwangi meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk dalam bidang smart branding.
Menariknya, keberhasilan Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata. Pemerintah daerah juga melakukan reformasi birokrasi dan memperkuat pelayanan publik berbasis teknologi.
Berbagai inovasi seperti program jaminan sosial Kanggo Riko serta layanan digital Klik Sekati dihadirkan untuk mempermudah masyarakat mengakses pelayanan pemerintah secara cepat, mudah, dan transparan.
Transformasi Banyuwangi menjadi bukti bahwa stigma bukanlah takdir. Dengan visi yang jelas, kepemimpinan yang konsisten, dan kemampuan mengelola potensi lokal, sebuah daerah mampu mengubah persepsi menjadi prestasi.
Dari wilayah yang dulu lebih sering dibicarakan karena kisah-kisah mistis, Banyuwangi kini menjelma menjadi simbol kebangkitan daerah: destinasi wisata unggulan, laboratorium inovasi pelayanan publik, sekaligus contoh bagaimana branding yang tepat mampu menggerakkan ekonomi dan membangun kebanggaan masyarakatnya. BWN-03
































