Denpasar, Baliwakenews.com
Tekanan inflasi di Bali mulai meningkat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Nyepi dan Idulfitri 2026. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali per 2 Maret 2026 mencatat inflasi bulanan Februari mencapai 0,70% (mtm), berbalik dari deflasi -0,34% pada Januari.
Secara tahunan, inflasi juga melonjak dari 2,58% (yoy) menjadi 3,89% (yoy). Kenaikan ini dipicu lonjakan permintaan musiman jelang HBKN serta terdampak kenaikan harga emas global. Namun, faktor base effect diskon tarif listrik tahun lalu turut memperbesar angka inflasi tahunan, sehingga dinilai bersifat sementara.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan perlunya penguatan pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan.
“Penguatan sinergi TPID menjadi kunci, khususnya dalam menjaga stabilitas harga pangan strategis seperti beras, hortikultura, dan daging ayam ras,” tegasnya.
Secara wilayah, seluruh kabupaten/kota di Bali mengalami inflasi. Kabupaten Badung mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,04% (mtm), disusul Singaraja 0,77% dan Denpasar 0,57%. Secara tahunan, Denpasar mencatat inflasi tertinggi mencapai 4,33% (yoy).
Dari sisi komoditas, lonjakan harga cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, serta emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi. Sementara itu, tekanan inflasi sedikit tertahan oleh penurunan harga bensin, wortel, daging babi, dan bawang putih.
Ke depan, risiko inflasi diperkirakan masih tinggi. Selain peningkatan konsumsi saat HBKN, faktor cuaca juga menjadi perhatian. Puncak musim hujan berpotensi mengganggu produksi pertanian, distribusi logistik, hingga memicu penyakit ternak dan gelombang tinggi yang menghambat sektor perikanan.
Mengantisipasi hal tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah memperkuat strategi berbasis tiga pilar utama: menjaga pasokan, memperlancar distribusi, dan memperkuat regulasi.
Langkah konkret dilakukan melalui intensifikasi operasi pasar dengan prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, tepat sasaran), penguatan kerja sama antar daerah, hingga pengembangan ekosistem ketahanan pangan dari hulu ke hilir. Keterlibatan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi juga diperluas, termasuk mendorong penggunaan produk pangan lokal oleh pelaku usaha.
Dengan berbagai langkah tersebut, inflasi Bali sepanjang 2026 diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran target nasional 2,5%±1%, meski tekanan jangka pendek dipastikan meningkat jelang Nyepi dan Idulfitri. BWN-03































