Jejak Pemikiran Prof. Gede Sri Darma: Dari Kampus ke Arah Global Digital

Iklan Home Page

Denpasar, Baliwakenews.com

Pagi itu, Minggu (1/3/2026), kabar duka menyebar cepat di Bali. Sosok yang selama ini dikenal vokal, tajam dalam analisis, namun tetap membumi dalam gagasan Prof. Dr. Ir. Gede Sri Darma, S.T., M.M., D.B.A. berpulang pada usia 57 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, setelah berjuang melawan komplikasi penyakit.

Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang akademisi. Bali kehilangan pemikir ekonomi yang konsisten menghubungkan teori dengan realitas, kampus dengan masyarakat, serta tradisi dengan masa depan digital.

Pemimpin yang Membangun Arah

Sebagai Rektor Universitas Pendidikan Nasional selama tiga periode (2005–2019), Sri Darma bukan hanya memimpin institusi, tetapi membentuk karakter. Ia membawa kampus itu melampaui fungsi pendidikan formal menjadi ruang lahirnya wirausaha, inovasi, dan pemikiran global.

Baca Juga:  28 Tersangka Kasus Narkoba Dirantai, Dua Diantaranya Pasangan Muda

Di tangannya, Undiknas tumbuh sebagai salah satu perguruan tinggi swasta yang diperhitungkan. Ia menanamkan fondasi penting: manajemen modern, kewirausahaan berbasis praktik, dan kesiapan menghadapi era digital.

Namun yang paling melekat adalah visinya: “Move to Global Digital.”

Sebuah gagasan sederhana, tetapi berani mendorong generasi muda Bali untuk menembus pasar global tanpa kehilangan identitas lokal.

Ekonom yang Berpihak

Di luar kampus, Sri Darma adalah suara yang jernih dalam dinamika ekonomi Bali. Ia tidak sekadar mengamati, tetapi memberi arah.

Pascapandemi, ketika Bali terpuruk akibat ketergantungan pada pariwisata internasional, ia hadir dengan pendekatan realistis:
Digitalisasi UMKM sebagai tulang punggung ekonomi
Penguatan wisata domestik sebagai penyangga stabilitas
Dukungan kebijakan retribusi wisatawan asing demi keberlanjutan

Baca Juga:  Oknum Polisi Pukul dan Rampas Kalung Pedagang di Pinggir Jalan

Baginya, ekonomi Bali tidak boleh hanya tumbuh tetapi harus berkelanjutan dan berakar.

Intelektual yang Membumi

Mereka yang mengenalnya menggambarkan Sri Darma sebagai sosok jujur, lugas, dan progresif. Ia tidak segan berbeda pendapat, tetapi selalu dengan dasar pemikiran yang kuat.

Di ruang diskusi, ia adalah akademisi.
Di tengah masyarakat, ia adalah pendengar.

Itulah yang membuat pemikirannya terasa dekat tidak elitis, tetapi aplikatif.

Perjalanan Akademik yang Kuat

Langkah intelektualnya ditempa dari berbagai fase pendidikan:
Sarjana Teknik di Universitas Brawijaya
Magister Manajemen di Undiknas Denpasar
Doctor of Business Administration di Southern Cross University

Baca Juga:  Kanwil DJP Bali Gandeng Sejumlah Influencer di Bali Ajak Masyarakat Ikut PPS

Ia kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang manajemen sebuah pengakuan atas kontribusi panjangnya dalam riset, pendidikan, dan pengabdian.

Warisan yang Tinggal

Upacara pengabenan akan dilaksanakan pada 5 Maret 2026 di Krematorium Santha Yana, Denpasar. Namun kepergian Sri Darma tidak benar-benar meninggalkan kekosongan.

Gagasannya tentang ekonomi digital, keberlanjutan Bali, dan generasi muda yang adaptif akan terus hidup di ruang kelas, di kebijakan, dan di kepala mereka yang pernah belajar darinya.

Bali mungkin kehilangan seorang tokoh. Namun jejak pemikirannya akan terus menjadi arah. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR