Mangupura, baliwakenews.com
Pantai Pandawa tak hanya dipenuhi wisatawan yang menikmati panorama laut, tetapi juga menjadi saksi berlangsungnya prosesi sakral Nyegara Gunung, tradisi turun-temurun Desa Adat Kutuh yang menjadi penutup rangkaian Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wrespati Kalpa di Pura Beji Desa Adat Kutuh.
Ratusan krama Desa Adat Kutuh mengikuti prosesi dengan penuh khidmat, sementara wisatawan domestik maupun mancanegara menghentikan sejenak aktivitas liburan mereka untuk menyaksikan ritual yang berlangsung di bibir Pantai Pandawa. Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana tradisi Bali tetap hidup dan menjadi daya tarik autentik di tengah berkembangnya kawasan pariwisata kelas dunia.
Jro Bendesa Adat Kutuh, Jro Nyoman Mesir, menjelaskan bahwa Nyegara Gunung merupakan tahapan penting dalam rangkaian karya di Pura Beji yang menjadi pura terakhir dari 14 pelebaan pura di wilayah Desa Adat Kutuh.
“Rangkaian upacara yadnya telah berjalan dengan baik. Prosesi Nyegara Gunung dilaksanakan di Pantai Pandawa, kemudian dilanjutkan dengan Ngeloka Dresta dan diakhiri Penyineban sebagai penutup seluruh rangkaian upacara yadnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelaksanaan karya suci tersebut menjadi bukti komitmen masyarakat Kutuh dalam menjaga warisan adat, budaya, dan spiritual meski wilayahnya berkembang pesat sebagai destinasi wisata internasional.
Melalui Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wrespati Kalpa, pihaknya berharap Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan panugrahan dan kerahayuan kepada seluruh krama Desa Adat Kutuh, baik krama pengarep maupun krama tamiu. Harapan serupa juga dipanjatkan agar Desa Adat Kutuh beserta seluruh kawasan wisatanya, termasuk Pantai Pandawa, selalu diberikan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Pada kesempatan itu, Jro Nyoman Mesir juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan seluruh rangkaian upacara yadnya. Sementara itu, Manggala Karya I Ketut Gita menjelaskan, prosesi Nyegara Gunung merupakan ungkapan rasa syukur kepada Ida Bhatara Segara maupun Ida Bhatara sane melinggih di manca desa, dengan pusat pelaksanaan di Pantai Pandawa.
Dalam prosesi tersebut juga dilaksanakan bakti pengremek sebagai wujud bhakti kepada Ida Bhatara di Segara, mengingat sebelumnya telah dilakukan ngamit tirta kamandalu di laut. Menurutnya, Nyegara Gunung bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga sarana memahami nilai-nilai spiritual melalui rangkaian meajar-ajar Nyegara Gunung, sekaligus menjaga ajaran leluhur agar tetap lestari di tengah modernisasi.
“Diharapkan melalui pelaksanaan upacara yadnya ini seluruh krama Desa Adat Kutuh memperoleh panugrahan berupa ketenteraman batin, baik secara sekala maupun niskala. Pemaknaan yadnya juga mengajarkan agar gerakan pikiran dan gerakan tubuh berjalan seimbang, sehingga seluruh rangkaian upacara dilaksanakan dengan rasa tulus ikhlas dan penuh makna,” jelasnya.
Sebagai Manggala Karya, I Ketut Gita turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung sehingga seluruh rangkaian Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wrespati Kalpa dapat berlangsung lancar, tertib, dan penuh khidmat.
Keberlangsungan prosesi Nyegara Gunung di Pantai Pandawa menjadi potret harmoni antara pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata. Di tengah ramainya kunjungan wisatawan, tradisi sakral tetap dijalankan sesuai pakem, sekaligus menghadirkan pengalaman budaya yang autentik bagi para pengunjung dan memperkuat identitas Bali sebagai destinasi wisata berbasis budaya. BWN-04

































