Drama Plin-plan di Atas Gundukan Sampah

Iklan Home Page

TPA Suwung Ditutup dengan Ritual, Ehhh Tiba-tiba Dibuka Lagi dengan Konferensi Pers

Denpasar, Baliwakenews.com

TPA Suwung resmi “ditutup” pada Jumat, 10 Januari 2026. Upacara lengkap digelar, banten tersusun, para pejabat menunduk khusyuk, dan kamera-kamera merekam momen yang disebut sebagai sejarah pengelolaan sampah Bali. Akun-akun media sosial memposting, perjalanan panjang TPA Suwung akhirnya tamat.

Tapi itu hanya berlaku di panggung upacara. Sebab baru beberapa hari setelah seremonial penutupan, Koster muncul memberi pernyataan baru, operasional TPA Suwung diperpanjang sampai November 2026. Begitu saja. Seakan upacara yang digelar tidak lebih dari dekorasi acara jalan-jalan.

Muncul pertanyaan yang sulit dihindari, kalau mau diperpanjang, kenapa mesti ada upacara penutupan? Agar sampah merasa dihormati sebelum tetap ditumpuk di tempat yang sama?

Baca Juga:  Pemanfaatan Akupresure Untuk Mengurangi Gejala Flu Di Masa Pandemi Covid-19

Keputusan yang berubah-ubah ini memberi kesan, gubernur mengambil langkah strategis dengan perhitungan yang tak sampai setengah matang. Penutupan TPA adalah keputusan besar dengan konsekuensi teknis, ekologis, sosial, dan logistik yang tidak main-main. Jumlah sampah yang masuk ke Suwung bukan ukuran yang bisa dijabarkan dengan kalimat “nanti kita pikirkan bersama”, tetapi dengan persiapan infrastruktur konkret. Namun, keputusan untuk menutup lalu memperpanjang kembali justru memberikan gambaran yang lebih jelas daripada peta jalan pengelolaan sampah, pemerintahan yang plin-plan, kebijakan yang berubah lebih cepat dari pergantian shift truk pengangkut.

Baca Juga:  Kasanga dan Takaran Kesadaran yang Tersisa 

Ironinya, dalam budaya Bali, upacara adalah bagian paling sakral dari usaha menata energi ruang. Tetapi TPA Suwung kini mengalami nasib unik, ditutup secara niskala, dibuka kembali secara sekala. Ritualnya selesai, kenyataannya tetap sama. Truk masih datang, bau tetap naik, warga sekitar tetap menanggung beban yang sama, yang berubah hanya pernyataan pejabatnya.

Warga yang sempat percaya pada komitmen penutupan kini hanya bisa tersenyum miris. Apa boleh buat, TPA Suwung mungkin memang ditakdirkan menjadi ruang yang paling sering “ditutup” tanpa pernah benar-benar berhenti beroperasi. Yang ditutup hanya panggung seremoni. Kebijakannya terus dibuka ulang seperti pintu darurat dalam konser politik.

Baca Juga:  Kuta Selatan Siap Menang Suyadinata, Pastikan APBD Dikembalikan Kepada Masyarakat

Ketika pemerintah menutup TPA, lalu membukanya kembali, lalu menyebut ini sebagai bagian dari “penyesuaian kebijakan”, publik hanya melihat satu hal, bukan gunungan sampahnya yang berubah-ubah, melainkan keputusannya. Sampah tetap konsisten menjadi sampah. Pemerintah yang justru tidak konsisten menjadi pemerintah.

Pada akhirnya, warga Bali harus menerima kenyataan sederhana, TPA Suwung sudah ditutup, tapi pemerintahnya belum siap. Dan selama ketidaksiapan itu terus berlangsung, upacara penutupan hanyalah sebuah tontonan, tanpa dampak, tanpa arah dan tanpa rasa malu untuk membukanya kembali. BWN-01

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR