Mangupura, baliwakenews.com
Upacara Nyenuk dalam rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa di Pura Beji, Desa Adat Kutuh, menjadi bukti bahwa tradisi leluhur tidak hanya tetap lestari, tetapi juga mampu menyatukan seluruh krama desa dalam satu semangat kebersamaan.
Ribuan warga dari empat banjar di Desa Adat Kutuh terlibat langsung dalam prosesi sakral tersebut. Mereka berjalan beriringan menuju Madya Mandala Pura Beji sambil membawa aneka hasil bumi sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Keunikan prosesi tampak dari lima kelompok peserta yang mengenakan busana berwarna putih, kuning, merah, hitam, dan manca warna. Setiap kelompok menampilkan gerakan tari yang khas, penuh ekspresi, bahkan sesekali mengundang gelak tawa para peserta maupun masyarakat yang menyaksikan.
Meski menghadirkan suasana penuh sukacita, setiap gerakan yang ditampilkan memiliki makna spiritual sebagai ungkapan bhakti dan rasa syukur atas anugerah yang diterima masyarakat. Sesampainya di hadapan Ida Dalem Sidakarya, masing-masing kelompok menyampaikan penghormatan sekaligus menyerahkan simbol persembahan hasil bumi dari seluruh penjuru desa sebagai bentuk syukur dan permohonan restu bagi kelangsungan kehidupan masyarakat.
Manggala Prawartaka Karya, Ketut Gita, menjelaskan Upacara Nyenuk merupakan bagian penting dari rangkaian Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, Pedudusan Alit Wraspati Kalpa yang melibatkan seluruh krama Desa Adat Kutuh beserta prajuru adat karena pelaksanaannya bersifat manca desa.
Ia mengatakan, prosesi penganyaran dan penyenukan mengandung makna penganugerahan Ida Bhatara Sesuhunan Manca Desa atau Manca Bhuwana. Wara nugraha tersebut diwujudkan melalui persembahan hasil bumi, seperti pala bungkah dan pala gantung, sebagaimana tertuang dalam sastra agama Hindu.
Prosesi kemudian diterima secara simbolis oleh Ida Sang Sidakarya sebagai pengrajeg karya melalui dialog adat yang melambangkan diterimanya persembahan dari seluruh wilayah desa.
Upacara Nyenuk dipuput oleh Ida Pandita Empu serta dihadiri Tri Sadhaka yang terdiri atas Siwa, Buddha, dan Bujangga. Setelah prosesi selesai, rangkaian karya dilanjutkan dengan upacara Nyegara Gunung dan Meajar-ajar.
Menurut Ketut Gita, pelaksanaan Nyenuk tidak boleh dipandang hanya sebagai ritual maupun tontonan budaya. Tradisi ini mengandung nilai-nilai spiritual yang harus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, seluruh unsur masyarakat dilibatkan, mulai dari krama adat, masyarakat dinas, prajuru adat hingga paiketan pemangku. Keterlibatan bersama tersebut menjadi simbol kuatnya persatuan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
“Harapan kami, makna pelaksanaan yadnya ini benar-benar meresap ke dalam sukma sarira seluruh krama sehingga menjadi kekuatan batin sebagai umat Hindu Bali,” ujar Ketut Gita.
Di balik tarian yang mengundang senyum dan suasana penuh keceriaan, Upacara Nyenuk sesungguhnya menyimpan pesan mendalam tentang persatuan, rasa syukur, serta komitmen masyarakat Desa Adat Kutuh untuk terus menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup dari generasi ke generasi. BWN-04
































