Mangupura, Baliwakenews.com
Malam belum sepenuhnya reda ketika Jembatan Tukad Bangkung kembali dipanggil oleh keputusasaan. Di bentangan beton yang membelah lembah dalam itu, seorang remaja berdiri bersama sepeda motornya, menatap gelap yang seolah menawarkan akhir dari segala luka.
Senin 5 Januari 2026 malam, remaja berusia 19 tahun, berinisial IKM, nyaris mengakhiri hidupnya di jembatan tertinggi di Bali itu. Ia datang dengan Vespa putih, membawa kegelisahan yang tumbuh dari layar ponsel, yakni video call yang menampilkan foto pacarnya bersama pria lain. Gambar singkat itu cukup untuk meruntuhkan emosinya.
Informasi datang dari orang terdekat, yakni sang pacar yang menghubungi call center 110. Laporan itu bergerak cepat, berantai, hingga aparat Polsek Petang tiba di lokasi. IKM masih berada di jembatan ketika diamankan. Ia tak melawan, hanya terlihat lelah. Beberapa saat kemudian, ia diserahkan kembali ke keluarganya.
Belum genap 24 jam, Selasa 6 Januari pagi, Tukad Bangkung kembali “dipilih”. Kali ini oleh pria berusia 32 tahun, berinisial IGS atau I Gede JS yang datang seorang diri mengendarai Yamaha NMax. Ia tidak berdiri di pagar jembatan. Ia duduk diam di sisi timur, di dekat minimarket, seperti seseorang yang masih menimbang antara pulang atau melompat.
Laporan kembali masuk melalui 110 sekitar pukul 09.30 Wita. Pelapor mengaku anaknya berada di sekitar jembatan dan menunjukkan tanda-tanda keputusasaan akibat konflik keluarga. Aparat bergerak cepat. Pria itu ditemukan tak lama kemudian, masih duduk di atas motornya, menunduk, sendirian.
Dari pemeriksaan awal, kisahnya mengalir pelan. Bukan soal cinta, melainkan retakan hubungan dengan orang tua. Tekanan yang menumpuk, kata-kata yang tak selesai, dan perasaan tak dipahami. Semua itu mendorongnya datang ke tempat yang entah mengapa sering menjadi alamat terakhir bagi mereka yang putus asa.
Di Polsek Petang, ia tidak langsung diinterogasi. Polisi justru membuka jalur komunikasi: video call dengan orang tuanya. Percakapan singkat itu perlahan menurunkan emosinya. Sekitar pukul 10.30 Wita, ia memilih pulang ke Denpasar.
Jembatan Tukad Bangkung kembali menunjukkan wajah lain dari kemegahannya. Di siang hari, ia adalah destinasi wisata. Di malam dan pagi yang sunyi, ia berubah menjadi ruang kontemplasi paling ekstrem. Pagar traling dan CCTV berdiri, tapi sering kali hanya menjadi saksi bisu. Yang benar-benar mencegah tragedi adalah kehadiran manusia lain, entah itu keluarga, aparat, atau sekadar seseorang yang mau mendengar.
“Ini kejadian yang sama, hanya selang beberapa jam,” ujar Kapolsek Petang AKP I Nyoman Arnaya. Kalimat itu terdengar datar, tapi menyimpan kegelisahan yang panjang, lantaran betapa seringnya jembatan itu dipanggil oleh mereka yang sedang runtuh.
Di Tukad Bangkung, hidup dan mati kerap hanya dipisahkan oleh satu keputusan singkat dan untungnya, kali ini, keputusan itu berhasil ditunda. BWN-01
































