Bukti Peradaban Bali di Museum Pustaka Lontar Desa Wisata Dukuh Penaban Karangasem

Iklan Home Page

Karangasem, baliwakenews.com

Mengunjungi sebuah desa wisata, wisatawan selalu ditawarkan dengan keunikan tersendiri yang berbeda dari daerah lainnya. Seperti halnya Desa Wisata Dukuh Penaban yang terletak di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Berkunjung ke desa ini, wisatawan akan melihat betapa luar biasanya peradabam masyarakat Bali ratusan tahun yang lalu.

Dusun Penaban memiliki sebuah Museum Pustaka Lontar, yang tidak bisa dijumpai di daerah lain. Sedikitnya 313 lontar disimpan di Museum Pustaka Lontar, yang mencatat dengan rapi berbagai hal mulai dari tata cara kehidupan ritual hingga keseharian. Semua catatan ini pun masih dijadikan pedoman aturan di masyarakat adat Bali. Bahkan ada lontar yang umurnya mencapai 390 tahun. Lontar tertua ini diberinama lontar buana kosa yang isinya tentang bagaimana proses terbentuknya bumi.

Wakil Bandesa Adat Dukuh Penaban, Kelurahan/Kab. Karangasem Nengah Sudana yang juga Ketua Pokdarwis Desa Dukuh Penaban menuturkan sejarah dibangunnya Museum Pustaka Lontar yang merupakan prakarsa dari warga desa.

“Warga Penaban banyak yang memiliki lontar, sehingga pada 2017 lalu mencul ide untuk membuat sebuah desa wisata dengan icon sebuah museum lontar,” tutur Nengah Sudana, Ketua Pokdarwis Desa Dukuh Penaban

Baca Juga:  Sudirta Pacu Semangat Tim Pemenangan Dana-Dipa

Lontar- lontar tersebut disimpan pada sebuah bangunan yang diberi nama Bale Sangku Putih. Bangunan sederhana yang terlihat seperti rumah masyarakat Bali zaman dulu, terbuat dari batu gumpalan tanah (popolan), yang kemudian bagian atasnya disusun dengan anyaman bambu dan jerami di bagian atap, sehingga terlihat sangat klasik.

Nengah Sudana menuturkan nama Bale Sangku Putih juga memiliki makna tersendiri yaitu untuk menghormati ajaran para Pemangku (orang suci umat Hindu). “Bangunan tempat menyimpan lontar ini dibangun oleh para pemangku di desa kami, masyarakat hanya mengumpulkan bahan saja. Jadi untuk menghormati para pemangku ini dan ajarannya bangunan tersbeut diberi nama Bale Sangku Putih,” ucapnya.

Berkunjung ke Desa Wisata Dusun Penaban ini wisatawan bisa ikut menikmati berbagai kegiatan yang memang sudah dirancang oleh pengelola untuk memperkenalkan berbagai kearifan lokal dan adat istiadat yang ada di Karangasem dan Bali.

Di Museum Pustaka Lontar Karangasem para pengunjung bisa menyaksikan langsung tata cara menulis di atas daun lontar, dan bahkan proses pengolahan daun lontar hingga bias ditulis dan bias bertahan ratusan tahun, serta aktivitas lainnya. Wisatawan juga dapat melihat lontar yang telah didigitalisasi seperti aslinya kemudian ditulis dalam bahasa Bali, dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, karena lontar yang asli ditulis dengan aksara Bali dan menggunakan Bahasa Kawi. Namun baru 40 persen lontar yang selesai didigitalisasi.

Baca Juga:  Diadukan ke BK DPRD, Anggota Dewan Karangasem Berikan Bantahan

Bukan itu saja. Museum Pustaka Lontar juga didukung paket wisata tracking berkeliling Desa Pakraman Dukuh Penaban hingga di puncak bukit menikmti panorama alam, sawah, lembah, dan terlihat Kota Amlapura.

Sepanjang jalur tracking, wisatawan juga bisa menikmati sejuknya Mata Air Sad Ripu, yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit, paling tidak enam musuh dalam diri bisa reda, yang merupakan khasiat air tersebut. Enam mata air tersebut kerap dijadikan tempat melukat/ membersihkan diri.

Keunikan Desa Wisata Dusun Penaban diakui Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) RI, Vincensius Jemadu, yang sempat berkunjung pada Selasa 22 Februari 2022, serangkaian FGD Penguatan Desa Wisata Bali bekerjasama dengan Serikat Media Siber Indonesia (SMS) Bali. Vincen mengatakan telah mengunjungi 25 desa wisata dari 50 desa wisata terbaik di Indonesia dan semua memiliki keunikan. Ia melihat Dusun Penaban memiliki keunikan yang luar biasa karena memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Baca Juga:  Pemancing Terseret Ombak, Ditemukan Meninggal

“Zaman dulu orang di Yunani menulis di atas Papyrus yang sekarang menjadi paper/kertas, nah lontar ini hampir sama dengan papyrus. Ini menunjukkan betapa luar biasanya peradaban masyarakat Bali ratusan tahun lalu, dan ini harus dilestarikan,” tutur Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf RI, Vincensius Jemadu.

Bila ingin melihat sendiri Bukti Peradaban Bali ratusan tahun yang lalu wisatawan bias dating langsung ke Museum Pustaka Lontar Desa Wisata Dukuh Penaban Karangasem, tentunya akan memberikan pengalaman berwisata yang berbeda dari biasanya.*BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR