Semarapura, Baliwakenews.com
Di tengah lonjakan permintaan kain tenun tradisional Bali, pelaku UMKM justru menghadapi persoalan klasik: keterbatasan modal dan mahalnya bahan baku. Kondisi ini dialami I Wayan Bagiarta, perajin tenun ikat asal Klungkung yang harus berjibaku memenuhi pesanan ribuan lembar kain dengan proses produksi yang masih sepenuhnya tradisional.
Melihat potensi sekaligus tantangan tersebut, BRI memperkuat dukungan pembiayaan kepada usaha tenun milik Bagiarta yang telah bertahan selama lebih dari tiga dekade.
Usaha yang dirintis keluarganya sejak 1989 itu berawal dari aktivitas sederhana sang ibu yang menenun di rumah menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Seiring meningkatnya permintaan pasar, usaha tersebut berkembang dengan menggandeng para penenun lokal dari berbagai wilayah di Bali.
“Awalnya orang tua yang menenun. Dari tahun 1989 mulai berkembang sampai punya banyak penenun,” ujar Bagiarta.
Pada masa kejayaannya, usaha ini mampu menyerap hingga 15 tenaga penenun. Kini, produksi tetap berjalan melalui pola kemitraan, di mana para penenun bekerja dari rumah masing-masing.
Produk yang dihasilkan berupa kamen, sarung, hingga kain jumputan yang banyak digunakan untuk kebutuhan upacara adat, seragam PKK, maupun berbagai keperluan budaya masyarakat Bali. Pasarnya pun sudah tersebar ke sejumlah toko kain dan sentra kebaya di Pulau Dewata.
Menariknya, permintaan pasar justru terus meningkat. Dalam sebulan, Bagiarta menerima pesanan sekitar 500 lembar kamen dan 500 sarung. Namun seluruh pesanan tersebut baru dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat bulan karena seluruh proses produksi masih mengandalkan keterampilan tangan para penenun.
“Permintaan tetap ada dan cukup banyak. Cuma pengerjaannya memang tidak bisa cepat karena semuanya masih tradisional,” katanya.
Di balik tingginya minat pasar, tantangan lain muncul dari lonjakan harga bahan baku. Harga benang yang sebelumnya berkisar Rp400 ribu per pak kini melonjak menjadi sekitar Rp900 ribu per pak. Satu pak benang hanya mampu menghasilkan sekitar 80 meter kain tenun.
Kenaikan biaya produksi itu membuat akses permodalan menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku usaha agar tetap mampu menjaga arus produksi sekaligus memenuhi permintaan pasar.
Untuk memperkuat kapasitas usahanya, Bagiarta memanfaatkan dukungan pembiayaan dari BRI. Kredit tersebut digunakan untuk pengembangan usaha, termasuk membangun homestore sebagai bagian dari strategi memperbesar skala bisnis.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan dukungan pembiayaan kepada UMKM berbasis budaya lokal tidak hanya berdampak pada keberlanjutan usaha, tetapi juga menjaga warisan tradisi serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
“BRI mendukung kegiatan usaha pertenunan Wayan Bagiarta yang telah memberdayakan penenun lokal. Dengan demikian ekonomi masyarakat juga dapat hidup dan bergerak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini juga mendorong penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Program tersebut dapat dimanfaatkan pelaku UMKM, termasuk untuk membangun homestore guna meningkatkan kapasitas dan daya saing usaha.
Menurut Hery, kebutuhan permodalan akan terus tumbuh seiring lahirnya pelaku usaha baru setiap tahun. Karena itu, perbankan memiliki peran strategis dalam menggerakkan sektor riil, terutama UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
“Permodalan berupa pinjaman akan selalu dibutuhkan masyarakat untuk pengembangan usaha maupun memperbesar size usahanya. Di sinilah peran bank dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama sektor riil,” katanya.
Kisah Wayan Bagiarta menjadi bukti bahwa ketika akses pembiayaan bertemu dengan ketekunan menjaga kualitas, tenun tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan industri kreatif yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menopang ekonomi lokal. BWN-03

































