Nusa Dua, baliwakenews.com
Perawatan kesehatan mandiri (self-care) dinilai memiliki potensi besar dalam membantu mengurangi beban sistem layanan kesehatan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Bahkan, berdasarkan penelitian Global Self-Care Federation, penerapan perawatan kesehatan mandiri mampu menghemat biaya sistem kesehatan global hingga 144 miliar dolar AS setiap tahun.
Potensi besar tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam Asia Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Summit 2026 yang digelar di Bali, Oktober 2026. Forum regional selama tiga hari ini mempertemukan regulator, pemimpin kesehatan masyarakat, tenaga profesional kesehatan, akademisi, dan pelaku industri dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.
Mengusung tema “Self-Care in Healthcare: Scaling Partnership for Better Health Outcomes”, pertemuan ini mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor agar perawatan kesehatan mandiri dapat berkembang secara aman, mudah diakses, dan bertanggung jawab.
Ketua APSMI, perwakilan GP Farmasi sekaligus CEO PT Konimex, Rachmadi Joesoef, mengatakan kontribusi perawatan kesehatan mandiri terhadap sistem kesehatan telah terlihat secara nyata dan terukur. Selain menghemat biaya kesehatan global hingga USD 144 miliar per tahun, pendekatan tersebut juga mampu menghemat 2,20 miliar jam waktu dokter serta 13 miliar jam waktu perjalanan dan menunggu masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Menurutnya, besarnya manfaat tersebut menjadi momentum bagi negara-negara Asia-Pasifik untuk memperkuat penerapan self-care melalui kemitraan antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri farmasi, dan masyarakat.
“Peluang saat ini adalah membangun momentum yang sudah berkembang di kawasan Asia-Pasifik untuk memperluas perawatan kesehatan mandiri yang bertanggung jawab dan kontribusinya terhadap hasil kesehatan yang lebih baik. Tidak ada satu pihak pun yang dapat melakukan ini sendirian. Kemitraan akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan kemajuan,” ujarnya.
Dalam APSMI Summit 2026, sejumlah isu strategis dibahas untuk mempercepat pengembangan perawatan kesehatan mandiri. Di antaranya penyederhanaan regulasi dan mekanisme saling mengandalkan hasil penilaian regulator (regulatory reliance), perluasan akses obat bebas atau over-the-counter (OTC), penggunaan obat yang telah beralih status menjadi obat bebas secara aman, hingga penerapan pelabelan elektronik (e-labelling).
Penguatan peran apoteker serta penanganan resistensi antimikroba juga menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan keamanan penggunaan obat dan tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara.
Dari Indonesia, Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dita Novianti, memaparkan bahwa pengembangan perawatan kesehatan mandiri masih menghadapi tantangan, terutama terkait tingkat literasi kesehatan masyarakat yang belum merata.
Menurutnya, terdapat masyarakat yang sudah memiliki pemahaman kesehatan cukup baik, tetapi tidak sedikit pula yang masih terbatas pengetahuannya mengenai penggunaan obat secara benar.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes telah menjalankan sejumlah program edukasi, salah satunya Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat).
Melalui gerakan ini, masyarakat diberikan pemahaman mengenai cara membaca label obat, menggunakan obat sesuai aturan, hingga menyimpan dan membuang obat yang sudah tidak terpakai dengan benar.
Kemenkes juga meningkatkan kapasitas personel minimarket dan supermarket yang diizinkan menjual obat bebas maupun obat bebas terbatas. Langkah ini dilakukan agar petugas dapat memberikan penjelasan yang tepat kepada konsumen.
Edukasi penggunaan obat juga menyasar masyarakat sejak usia dini melalui sekolah-sekolah serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana penyebaran informasi kesehatan.
Dita mengakui, salah satu persoalan yang masih ditemukan adalah belum meratanya pemahaman masyarakat mengenai penggolongan obat berdasarkan tanda lingkaran berwarna pada kemasan. Padahal, setiap golongan obat memiliki ketentuan penggunaan dan akses yang berbeda.
Ia menegaskan, obat yang dapat dibeli secara bebas adalah obat bebas dan obat bebas terbatas, yang masing-masing ditandai lingkaran hijau dan biru pada kemasannya. Obat tersebut dapat diperoleh di apotek maupun supermarket yang memenuhi ketentuan.
Sementara itu, obat yang termasuk golongan lain harus menggunakan resep dokter karena penggunaannya memerlukan pengawasan tenaga medis atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Persoalan penggunaan antibiotik juga menjadi perhatian serius. Menurut Dita, sebagian masyarakat masih belum memahami pentingnya mengikuti dosis dan durasi pengobatan sesuai petunjuk dokter.
Antibiotik merupakan obat untuk mengatasi infeksi bakteri. Penggunaannya harus sesuai aturan agar tidak memicu resistensi antimikroba.
“Dokter selalu bilang dihabiskan, karena kalau tidak dihabiskan bakterinya akan semakin kuat,” ujarnya.
Ia mengingatkan, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten. Akibatnya, ketika seseorang kembali mengalami infeksi dan membutuhkan antibiotik, pengobatan bisa menjadi lebih sulit karena obat tidak lagi efektif.
Selain edukasi masyarakat, APSMI Summit 2026 juga menyoroti perkembangan berbagai inisiatif perawatan kesehatan mandiri di kawasan Asia-Pasifik.
Sepanjang 2026, sebanyak 81 inisiatif telah dilaporkan di 10 pasar oleh 17 organisasi. Program tersebut mencakup literasi dan edukasi kesehatan, pengembangan teknologi dan solusi digital, kolaborasi pemerintah dan swasta, penguatan tata kelola self-care, serta pengembangan nilai ekonomi dan sosial dari perawatan kesehatan mandiri.
Jika digabungkan dengan berbagai kegiatan sepanjang 2025, jumlah inisiatif yang selaras dengan prioritas Bangkok Joint Initiative 2024 telah melampaui 140 program.
Ilmuwan sekaligus pimpinan bidang Self-Care Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Manjulaa Narasimhan, mengatakan pilihan perawatan kesehatan mandiri berbasis bukti sebagaimana direkomendasikan dalam pedoman global WHO semakin melengkapi layanan kesehatan berbasis fasilitas.
Pendekatan tersebut dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sepanjang siklus kehidupan, di berbagai kondisi ekonomi.
“Pilihan perawatan kesehatan mandiri ini juga menjawab tantangan utama kesehatan masyarakat di kawasan Asia-Pasifik dengan berkontribusi terhadap peningkatan literasi kesehatan, akses, pemerataan, serta kapasitas sistem kesehatan,” ungkapnya. BWN-04
































