Mangupura, baliwakenews.com
Kreativitas dalam melestarikan tradisi Bali ditunjukkan melalui lomba penjor mini yang menjadi salah satu daya tarik Festival Penjor 2026 di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Kamis (5/11/2026) malam. Sebanyak 14 peserta ambil bagian dalam lomba merangkai penjor berukuran mungil dengan tetap mempertahankan kelengkapan ornamen dan nilai tradisi.
Meski dibuat dalam ukuran jauh lebih kecil dibandingkan penjor pada umumnya, proses pembuatannya bukan perkara mudah. Peserta dituntut memiliki keterampilan, ketelitian, dan kesabaran dalam merangkai setiap bagian penjor agar tetap terlihat proporsional dan menarik.
Setiap detail ornamen harus diperhatikan, mulai dari kelengkapan perlengkapan hingga unsur estetika. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan bentuk penjor yang tetap mencerminkan tradisi Bali meskipun dikemas dalam ukuran mini.
Lomba ini sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi penjor dapat dikembangkan menjadi ruang kreativitas tanpa harus meninggalkan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Public Relation Manager GWK, Rr. Indriani Kusuma, mengatakan Festival Penjor merupakan salah satu upaya menghadirkan ruang apresiasi terhadap tradisi dan budaya Bali. Melalui kegiatan ini, masyarakat, komunitas, dan generasi muda diberikan kesempatan untuk mengenal sekaligus mengembangkan kreativitas dalam tradisi penjor.
Menurutnya, penjor memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat Bali. Bambu tinggi yang dihiasi janur dan hasil bumi tersebut merepresentasikan rasa syukur, kemenangan dharma atas adharma, serta memiliki keterkaitan dengan Gunung Agung dan Naga Basuki.
Karena memiliki nilai tradisi dan filosofi yang kuat, GWK menghadirkan Festival Penjor sebagai salah satu agenda budaya tahunan. Festival ini masuk dalam empat agenda tahunan GWK yang terdiri dari dua kegiatan budaya dan dua konser musik. Penyelenggaraannya dijadwalkan pada Oktober atau November setiap tahun.
Selain lomba penjor mini, festival tahun ini juga diisi pameran penjor, workshop penjor, bazar UMKM, pertunjukan seni, hingga berbagai aktivitas interaktif bersama komunitas. Kegiatan tersebut melibatkan LPM Ungasan, Puri Lontar, Bali Aga, Duen Penjor, Joyful Music Bali, Debeat Music Course, Komunitas Seni Dana Swara, dan Cressendo.
Keterlibatan pelaku ekonomi kreatif terlihat melalui bazar UMKM yang menghadirkan sejumlah tenant terkurasi dengan produk kuliner. Aktivitas komunitas lainnya diisi Celebrity Fitness melalui kegiatan body combat serta MicroMinfullnes dengan kegiatan yoga.
Suasana festival semakin semarak dengan penampilan Tika Pagraky, Nanoe Biroe, Ary Kencana bersama Neli Ambarawati, serta Leeyonk Sinatra. Pengunjung juga dapat menikmati pertunjukan seni, musik komunitas, dan fashion show bersama Gemar Creative.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, Ch. Rossie Andriani, mengatakan pengembangan kegiatan seni, budaya, dan berbagai event menjadi bagian dari upaya GWK mendukung aktivitas pariwisata Bali. Saat ini, jumlah kunjungan ke GWK tercatat berkisar 3.000 hingga 5.000 orang per hari.
Selain Festival Penjor, GWK juga menggelar Festival Ogoh-Ogoh sebagai salah satu agenda budaya. Setelah Festival Penjor 2026, agenda berikutnya yang telah disiapkan adalah GWK Bali Countdown.
Rossie menambahkan, pelestarian budaya Bali tidak hanya dilakukan melalui festival tahunan. Setiap hari, GWK menghadirkan sekitar 15 pertunjukan seni budaya, mulai dari tari tradisional, gamelan hingga pertunjukan kolosal.
GWK juga memiliki program Literasi Budaya yang memperkenalkan seni dan tradisi Bali kepada anak-anak sejak dini melalui pengalaman langsung. Upaya tersebut diperkuat dengan kolaborasi bersama masyarakat dan komunitas melalui program GWK Menari, GWK Menabuh, serta Panggung Nusantara.
Melalui lomba penjor mini dan berbagai rangkaian festival lainnya, GWK berharap tradisi Bali semakin dikenal dan mendapat ruang pengembangan, khususnya di kalangan generasi muda, sehingga warisan budaya tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus berkembang mengikuti kreativitas zaman. BWN-04































