Warga Bali Masih Harus Menunggu Hujan hingga Desember

Iklan Home Page

Mangupura, Baliwakenews.com – Hujan belum akan merata menyiram Bali dalam waktu dekat. Memasuki September 2026, sebagian besar wilayah Bali masih harus menghadapi kemarau yang diprakirakan lebih kering dan lebih panjang dari kondisi normal.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar memprakirakan sebagian wilayah Bali baru mulai memasuki musim hujan paling awal pada akhir November 2026. Sementara sebagian besar wilayah lainnya diprediksi baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Kondisi ini membuat masyarakat masih harus bersabar menghadapi periode kering dalam beberapa bulan ke depan. Terlebih, kemarau tahun ini berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang turut membuat kondisi lebih kering.

Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Maria Octorina, mengatakan Bali sebenarnya telah melewati periode puncak musim kemarau yang secara umum terjadi pada Agustus 2026. Namun, kondisi kemarau masih akan berlangsung sepanjang September dan berlanjut secara bertahap hingga memasuki masa peralihan menuju musim hujan.

“Saat ini Bali sudah melewati periode puncak musim kemarau, yang secara umum terjadi pada Agustus 2026, namun kondisi kemarau masih berlanjut pada September dan diperkirakan berlangsung secara bertahap hingga memasuki periode peralihan menuju musim hujan,” ujarnya saat dihubungi Kamis (3/9/2026).

Baca Juga:  Penyerahan Kartu BPJS Ketenagakerjaan Secara Simbolis di Badung

Menurut Maria, September masih merupakan periode kemarau di Bali. Kondisi tahun ini bahkan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normalnya.

Wilayah dengan karakteristik lahan relatif kering berpotensi lebih terdampak, terutama Bali bagian Utara dan Barat. Namun, karena kemarau berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino, potensi kekeringan dapat dirasakan di sebagian besar wilayah Bali.

“Akan tetapi pada musim kemarau tahun ini yang berbarengan dengan fenomena El Nino, maka sebagian besar wilayah Bali memiliki potensi kekeringan,” tuturnya.

Meski demikian, bukan berarti Bali sama sekali tidak akan diguyur hujan selama September. Hujan masih berpeluang turun di sejumlah wilayah, tetapi umumnya bersifat lokal dan sporadis.

Hujan tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi topografi, pemanasan permukaan hingga gangguan dinamika atmosfer. Karena itu, hujan yang turun di suatu wilayah belum dapat dijadikan tanda bahwa musim hujan telah tiba.

Baca Juga:  Ikuti Kegiatan “Internalisasi Pemikiran Bung Karno” di Blitar Jawa Timur  

Pada periode kemarau, hujan masih dapat terjadi dengan cakupan wilayah terbatas dan tidak berlangsung merata di seluruh Bali.
El Nino menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi kemarau tahun ini lebih kering. Fenomena tersebut cenderung mengurangi suplai uap air dan aktivitas konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini dapat menyebabkan curah hujan berkurang sekaligus memperpanjang periode tanpa hujan.

“Untuk musim kemarau tahun 2026 ini, sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Bali, mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya,” terangnya.

Masyarakat Bali pun masih harus menunggu beberapa bulan lagi sebelum sebagian besar wilayah memasuki musim hujan. BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 paling awal terjadi pada akhir November 2026, sedangkan sebagian besar wilayah Bali diprediksi mulai memasuki musim hujan pada Desember 2026.

Artinya, awal musim hujan tahun ini berpotensi mengalami kemunduran dibandingkan kondisi normal. Masuknya musim hujan juga tidak akan berlangsung serentak di seluruh Bali. Perbedaan waktu tersebut berkaitan dengan karakteristik masing-masing wilayah yang dalam pemetaan BMKG dibagi berdasarkan Zona Musim (ZOM).

Baca Juga:  Libur Panjang Idul Adha, Bandara Ngurah Rai Prediksi Layani 507.076 Penumpang

Dengan kondisi tersebut, akan ada wilayah yang lebih dahulu mendapatkan hujan, sementara wilayah lainnya masih harus menghadapi kemarau.

Menghadapi kondisi tersebut, BBMKG mengimbau masyarakat agar lebih bijak menggunakan air selama periode kemarau. Masyarakat disarankan menyiapkan cadangan atau tampungan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun sektor pertanian.

Selain persoalan ketersediaan air, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Warga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan karena kondisi lingkungan yang kering membuat api lebih mudah menyebar.

“Masyarakat juga diimbau terus memantau informasi cuaca, iklim, serta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG melalui kanal resmi untuk mengantisipasi dampak kemarau yang masih berlangsung,” tegasnya. BWN-04

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR