Mangupura, baliwakenews.com
Warga di wilayah Badung Selatan mulai menghadapi dampak kemarau berkepanjangan. Menurunnya debit air baku di Waduk Muara membuat produksi air bersih Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung ikut menyusut.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Mangutama, Made Suarsa, mengatakan kondisi produksi air bersih saat ini tidak lagi seoptimal kondisi normal. Jika biasanya produksi berada di atas 800 liter per detik dan bahkan mencapai sekitar 830 liter per detik, kini produksinya telah turun di bawah angka tersebut. “Yang biasanya kita di atas 800, sekitar 830 liter per detik. Sekarang di bawah 800,” ujar Made Suarsa dikonfirmasi Jumat (4/9/2026).
Penurunan produksi tersebut terjadi seiring dengan merosotnya elevasi air baku di Waduk Muara. Dalam kondisi normal, elevasi air baku di waduk tersebut berada pada kisaran 130 sentimeter. Namun, berdasarkan pemantauan terakhir, elevasi air telah turun menjadi sekitar 80 sentimeter.
Kondisi tersebut mulai dirasakan sejak awal Agustus. Meski penurunannya berlangsung secara bertahap, penurunan debit secara drastis baru terjadi pada pekan ini.
“Dari awal Agustus terjadi penurunan. Cuma drastisnya memang di minggu ini. Dampak dari kemarau itu bulan ini baru terasa,” ungkapnya.
Suarsa mengatakan penurunan debit air seperti ini sebenarnya hampir selalu terjadi setiap musim kemarau. Kendati demikian, Perumda Air Minum Tirta Mangutama terus melakukan berbagai langkah teknis untuk menjaga ketersediaan air baku agar pelayanan kepada pelanggan tetap berjalan.
Salah satu upaya yang dilakukan yakni berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Nusa Penida. Koordinasi dilakukan untuk meminta tambahan aliran atau penggelontoran sumber air menuju Waduk Muara.
Penggelontoran tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan ketersediaan air yang masuk ke sistem pengambilan air baku. Dengan begitu, pasokan air menuju sistem pengolahan tetap dapat dijaga di tengah kondisi debit yang terus menurun.
Selain meminta tambahan aliran, Perumda Air Minum Tirta Mangutama juga melakukan pengerukan sedimentasi di Waduk Muara. Langkah ini dilakukan untuk membantu menjaga kapasitas tampung waduk sekaligus mendukung ketersediaan air menuju sistem pengolahan.
Dampak penurunan debit Waduk Muara saat ini terutama dirasakan pada distribusi air di wilayah Badung Selatan. Waduk Muara merupakan salah satu sumber air baku yang menopang pelayanan air bersih di kawasan tersebut. “Dampaknya dominan di selatan. Itu kan pendistribusiannya di selatan,” jelasnya.
Sementara itu, kondisi produksi dan pelayanan air bersih di wilayah Badung Utara masih relatif normal. Suarsa mengatakan kawasan tersebut mendapat dukungan sumber air dari wilayah Petang dan Munggu sehingga belum mengalami gangguan serupa akibat penurunan debit Waduk Muara.
“Kalau di utara masih normal. Di Petang, Munggu, artinya daerah Badung Utara belum mengalami itu, produksi masih normal,” tandasnya. BWN-04

































