Mangupura, baliwakenews.com
Hutan mangrove di Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung, tidak hanya berperan menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat nelayan. Melalui wisata susur mangrove menggunakan kano dan jukung, Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih berupaya mengoptimalkan potensi alam setempat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Wisata berbasis alam ini mulai menarik minat pengunjung. Bahkan, tamu dapat datang hampir setiap hari ketika kondisi air laut pasang. Untuk memperluas jangkauan pasar, kelompok nelayan juga menjalin kerja sama dengan agen perjalanan yang membawa wisatawan ke kawasan mangrove.
Ketua KUB Kelompok Nelayan Wana Segara Kertih Kedonganan, Nyoman Sunarta, mengatakan kondisi pasang surut air laut menjadi faktor utama yang menentukan kelancaran aktivitas wisata tersebut.
Saat air pasang, wisatawan lebih mudah menyusuri kawasan bakau menggunakan kano maupun jukung. Sebaliknya, ketika air surut, akses menjadi lebih sulit karena pengunjung harus melewati kawasan berlumpur.
“Jadi, kami sudah kerja sama dengan travel. Setiap hari ada tamu kalau airnya pasang. Kalau air surut, mereka tidak membawa tamu karena agak susah berjalan di lumpur,” ujar Sunarta saat ditemui di Kedonganan belum lama ini.
Untuk memberikan pilihan kepada pengunjung, kelompok nelayan menyediakan dua jenis pengalaman susur mangrove. Wisatawan dapat menggunakan kano dengan tarif Rp 100.000 bagi wisatawan mancanegara dan Rp 50.000 untuk wisatawan domestik. Sementara itu, warga dari lingkungan setempat dikenakan tarif sekitar Rp 30.000.
Pengunjung yang ingin menikmati perjalanan bersama rombongan juga dapat memilih jukung atau perahu berkapasitas sekitar 12 orang dengan tarif Rp 700.000 per kapal. Adapun penggunaan kano tidak dibatasi waktu tertentu, sehingga wisatawan memiliki keleluasaan menikmati suasana hutan bakau.
Bagi kelompok nelayan, pengembangan wisata ini menjadi peluang untuk memperluas aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Potensi kawasan yang sebelumnya lebih dikenal karena aktivitas perikanan kini dapat dimanfaatkan pula untuk menawarkan pengalaman wisata alam.
Meski demikian, Sunarta menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak boleh mengesampingkan fungsi utama mangrove sebagai penyangga ekosistem pesisir. Karena itu, kebersihan kawasan dan perawatan tanaman bakau menjadi bagian penting dari pengelolaan yang dilakukan kelompok nelayan.
Dukungan pemerintah dan desa adat juga dinilai berperan dalam mendorong pengembangan kawasan tersebut. Selain untuk kegiatan wisata, hutan mangrove Kedonganan dimanfaatkan sebagai lokasi penanaman bakau yang melibatkan berbagai kelompok.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan potensi wisata yang tengah dikembangkan.
Menurut Sunarta, semakin dikenalnya wisata susur mangrove diharapkan membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat Kedonganan. Namun, pertumbuhan kunjungan perlu diimbangi dengan pengelolaan yang memperhatikan kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Dengan memadukan potensi wisata alam dan keterlibatan masyarakat pesisir, susur mangrove Kedonganan diharapkan menjadi alternatif wisata di kawasan Kuta, Badung. Pengembangan ini sekaligus membuka peluang bagi nelayan untuk memperoleh sumber pendapatan tambahan, tanpa mengorbankan ekosistem bakau yang menjadi daya tarik utamanya. BWN-04






























