Seribu Mangrove untuk Bali: Aksi Wartawan SMSI Bali Turun Tangan Menanam Harapan untuk Bumi

Iklan Home Page

Denpasar, Baliwakenews.com

Biasanya wartawan hadir dengan kamera, pena, dan catatan untuk melaporkan berbagai peristiwa. Namun pada Senin, 9 Maret 2026, ratusan jurnalis di Bali melakukan sesuatu yang berbeda. Mereka menanggalkan sejenak peran sebagai peliput berita dan turun langsung ke lumpur pesisir untuk menanam masa depan: 1.000 pohon mangrove.

Aksi lingkungan bertajuk “Wartawan Peduli Mangrove” ini digelar di kawasan Arboretum Tahura Ngurah Rai, Denpasar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 sekaligus perayaan Hari Ulang Tahun ke-9 Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) yang jatuh pada 7 Maret lalu.

Ketua SMSI Provinsi Bali, Emanuel Dewata Oja, yang akrab disapa Edo, mengatakan kegiatan ini sengaja dirancang berbeda dari biasanya. Bagi Edo, wartawan tidak hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga bisa memberi teladan melalui aksi nyata.

“Biasanya wartawan hanya mempublikasikan berita. Kali ini kita turun langsung agar masyarakat melihat bahwa alam ini milik kita bersama. Jangan sampai kita ikut merusaknya, tetapi justru harus memperbaikinya,” ujarnya.

Menurut Edo, kegiatan menanam mangrove memang terlihat sedikit “keluar jalur” dari profesi wartawan. Namun ia menilai langkah tersebut justru menjadi bentuk edukasi yang kuat bagi masyarakat.

Baca Juga:  Sutjidra Siapkan Singaraja Jadi Kota Pendidikan, 80 Sekolah Direvitalisasi hingga Seragam Gratis Digelontor

“Ketika wartawan turun langsung, pesan yang disampaikan akan lebih kuat. Ini adalah cara kita mengajak masyarakat menjaga lingkungan,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove tidak akan berhenti pada momentum HUT SMSI tahun ini. Program tersebut bahkan telah dicanangkan sebagai agenda tahunan organisasi.

“Mulai hari ini kita canangkan penanaman mangrove sebagai program tahunan SMSI setiap peringatan HUT ke depan,” tegasnya.

Aksi hijau para jurnalis ini mendapat dukungan penuh dari Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut gerakan ini sebagai wujud nyata merawat bumi dan menjaga keseimbangan alam Bali.

Menurut Giri Prasta, mangrove memiliki peran penting dalam ekosistem pesisir. Selain menahan gelombang dan abrasi, mangrove juga menjadi rumah bagi berbagai biota laut serta menghasilkan oksigen yang dibutuhkan manusia.

“Satu pohon mangrove memiliki sejuta manfaat. Ia melindungi pantai, menjadi habitat biota laut, dan juga penting bagi kualitas udara yang kita hirup,” ujarnya.

Ia juga menyinggung berbagai persoalan yang sempat muncul terkait kematian mangrove di beberapa wilayah. Namun ia mengajak semua pihak untuk menyikapi hal tersebut secara bijak sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga:  Tiga Hari ke Depan Bali Masih Berpotensi Hujan

“Kita harus tetap positif thinking. Yang terpenting adalah komitmen bersama menjaga Pulau Dewata yang kita cintai ini,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Sahabat Mangrove Ranger Indonesia, Nyoman Sweet Juniartini, menjelaskan bahwa hutan mangrove memiliki struktur ekosistem yang kompleks. Secara umum, mangrove terbagi dalam tiga zona yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Zona depan yang langsung berhadapan dengan laut berfungsi menstabilkan garis pantai dan meredam salinitas air. Zona tengah menjadi tempat berkembang biak berbagai biota laut seperti kepiting dan kerang. Sementara zona belakang berperan penting menahan erosi dari daratan.

“Setiap zona memiliki fungsi penting. Itulah sebabnya mangrove menjadi salah satu ekosistem pesisir paling vital,” jelasnya.

Di Bali sendiri, jenis mangrove sangat beragam. Bahkan jumlahnya mencapai lebih dari seratus jenis, meski yang umum ditemukan di kawasan Tahura Ngurah Rai sekitar 17 jenis.

Ketua panitia kegiatan sekaligus Ketua Jaringan Jurnalis Peduli Sampah (J2PS) Bali, Agustinus Apollonaris KD, menegaskan bahwa keberhasilan aksi ini tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam.

“Yang sering menjadi masalah bukan saat menanam, tetapi setelah itu. Kalau tidak dipantau dan dirawat, pohon bisa mati karena ombak, kekeringan, atau terlilit sampah plastik,” ujarnya.

Baca Juga:  Bayi yang Ditemukan di Semak-semak Kondisinya Melemah

Sebanyak 1.000 bibit mangrove untuk kegiatan ini disiapkan oleh Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali melalui UPT Tahura Ngurah Rai.

Aksi ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari komunitas hingga sektor swasta seperti Bank BPD Bali, Angkasa Pura Supports, Jasa Marga Bali Mandara, InJourney Airports, RS Bhakti Rahayu, Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia, Bebek Bengil, ITDC, dan Pelindo.

Bagi para jurnalis yang terlibat, menanam mangrove bukan sekadar kegiatan simbolik. Ini adalah pesan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis, tetapi tanggung jawab semua orang.

Hari itu, di tengah lumpur pesisir Tahura Ngurah Rai, pena para wartawan seolah berubah menjadi akar-akar mangrove yang menancap kuat di tanah. Menyampaikan pesan sederhana namun kuat: menjaga bumi tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan. BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR