Mangupura, Baliwakenews.com – Sampah rumah tangga di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, kini tak sekadar dibuang. Sampah yang dipilah warga dapat dikumpulkan, ditabung, dan memiliki nilai ekonomi yang bisa dipantau secara langsung.
Melalui Bank Sampah Digital yang dikelola BUMDes Mega Kencana Ungasan, lebih dari dua ribu warga kini dapat memantau saldo tabungan sampah mereka secara real-time melalui platform berbasis web PisahID.
Program yang mulai berjalan sejak Agustus ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Desa Ungasan, BUMDes Mega Kencana Ungasan, PKK, serta kader Bank Sampah di masing-masing banjar.
Direktur BUMDes Mega Kencana Ungasan yang juga Ketua LPM Desa Ungasan, I Made Nuada Arsana, mengatakan sistem digital tersebut menjadi salah satu keunggulan dalam pengelolaan Bank Sampah di Desa Ungasan. Setiap warga yang menjadi nasabah memiliki akun pribadi untuk mengetahui aktivitas tabungan sampah mereka.
“Semua masyarakat atau nasabah Bank Sampah itu mempunyai akun masing-masing. Sehingga dia, nasabah ini, dia bisa melihat saldo sampahnya dia secara real-time,” ujar Nuada, Senin (31/8/2026).
Dengan sistem tersebut, warga tidak lagi bergantung pada pencatatan manual. Nasabah dapat mengetahui jumlah sampah yang telah disetorkan sekaligus nilai ekonomi yang diperoleh dari sampah tersebut melalui akun masing-masing.
Pengelolaan sampah dilakukan secara terintegrasi hingga tingkat banjar. Warga terlebih dahulu memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah, kemudian menyerahkannya kepada kader Bank Sampah di lingkungan banjar masing-masing.
Sampah yang telah dikumpulkan selanjutnya diangkut menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk dikelola lebih lanjut oleh BUMDes. Pengangkutan sampah dari setiap banjar dilakukan berdasarkan mekanisme dan nilai yang telah disepakati bersama masyarakat.
Menurut Nuada Arsana, sistem tersebut tidak hanya mempermudah pencatatan dan pemantauan tabungan sampah, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah yang memiliki nilai ekonomi.
Tingginya partisipasi warga salah satunya terlihat dari volume sampah yang berhasil dikumpulkan. Dalam satu kali pengangkutan, sampah dari masing-masing banjar bisa mencapai sekitar satu ton.
Berbagai jenis sampah yang masih memiliki nilai jual diterima, mulai dari plastik, kresek hingga material lain yang dapat didaur ulang.
Saat ini, layanan Bank Sampah Digital masih difokuskan bagi seluruh kepala keluarga di Desa Ungasan. Jumlah nasabah terus bertambah dan hingga kini telah mencapai lebih dari dua ribu warga.
Sampah yang terkumpul kemudian disalurkan kepada pihak ketiga dan industri daur ulang.
Ke depan, layanan tersebut direncanakan tidak hanya menyasar warga Desa Ungasan, tetapi juga masyarakat umum. Pengembangan ini sekaligus diarahkan untuk mendukung peningkatan Pendapatan Asli Desa (PAD) melalui unit usaha BUMDes Mega Kencana Ungasan.
Hingga saat ini, pelaksanaan program disebut belum menghadapi kendala berarti. Tantangan utama masih pada edukasi masyarakat agar semakin terbiasa memilah sampah sejak dari rumah.
Dengan dukungan teknologi digital, Bank Sampah Ungasan kini tidak hanya menjadi tempat mengumpulkan sampah. Sistem tersebut juga mendorong perubahan cara pandang masyarakat bahwa sampah yang dipilah memiliki nilai ekonomi, sekaligus memberikan transparansi kepada warga mengenai hasil dari sampah yang mereka setorkan. BWN-04

































