Jimbaran, baliwakenews.com
Di tengah geliat pembangunan dan modernisasi pesisir selatan Bali, Banjar Perarudan, Jimbaran, menorehkan kisah berbeda. Warga setempat baru saja kembali memilih I Nyoman Suardika sebagai Kelian Adat, sementara di sisi lain, I Made Dharmayasa, tokoh muda energik, dipercaya menjadi Kepala Lingkungan (Kaling).
Dua figur lintas generasi ini kini menjadi simbol transisi dan sinergi baru di tengah perubahan sosial yang terus bergerak cepat di kawasan pariwisata. Bagi warga, keputusan itu bukan sekadar rutinitas adat, melainkan wujud dari kesadaran bersama untuk menjaga keberlanjutan nilai tradisi di era modern. Suardika yang dikenal terbuka, dinilai mampu menyeimbangkan ketegasan adat dengan keterbukaan terhadap ide-ide muda.
“Ini bukan kemenangan pribadi, tapi kemenangan seluruh krama Banjar Perarudan. Kami ingin adat tetap kuat, tapi juga bisa beradaptasi dengan zaman,” ujarnya, Minggu (9/11/2025).
Jimbaran kini tak lagi sekadar desa nelayan, ia telah menjelma menjadi magnet pariwisata internasional dengan hotel, kafe, dan villa mewah di setiap sudutnya. Perubahan itu membawa tantangan baru bagi tatanan sosial, termasuk dalam menjaga identitas adat di tengah arus ekonomi global.
Bagi Suardika, menjaga adat bukan berarti menutup diri. Ia justru menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam kegiatan banjar dan adat agar nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup. “Kalau anak muda tidak dilibatkan sejak dini, adat bisa kehilangan penerusnya. Tugas kami sekarang bukan hanya melestarikan, tapi juga menumbuhkan rasa memiliki,” katanya.
Di sisi lain, I Made Dharmayasa yang kini memimpin lingkungan sebagai Kaling menghadirkan semangat baru, inovatif, inklusif, dan berorientasi pada aksi sosial. Ia aktif menggerakkan kegiatan kebersihan, gotong royong, hingga program pelibatan anak muda dalam pelestarian lingkungan.
“Kolaborasi ini penting. Kami ingin anak muda ikut mengambil bagian dalam menjaga adat, lingkungan, dan ekonomi lokal. Tradisi tidak boleh berhenti di generasi orang tua saja,” ujar Dharmayasa.
Dengan gaya kepemimpinan yang dinamis, Dharmayasa menjadi jembatan antara adat dan modernitas memperkuat makna bahwa kemajuan bukan berarti meninggalkan akar budaya, melainkan mengolahnya menjadi kekuatan bersama.
Dengan filosofi menyama braya sebagai fondasi, Banjar Perarudan menegaskan bahwa masa depan adat bukan tentang bertahan, melainkan bertransformasi bersama waktu tanpa kehilangan jati diri. BWN-04






























