PKB XLIV : Pemuliaan terhadap Air Melalui Seni Pertunjukan

Iklan Home Page

Denpasar, baliwakenews.com

Seni pertunjukan drama dan tari di kalangan masyarakat Bali, Nusantara, bahkan berbagai belahan dunia sudah sejak lama dijadikan wahana untuk mengingatkan masyarakat mengenai cara memuliakan air. Demikian disampaikan Budayawan Bali, Prof. Dr. I Wayan Dibia saat menjadi narasumber widyatula (sarasehan) secara daring di Denpasar, Rabu 29 Juni 2022. “Sebab, kalau air sudah rusak, air sudah tercemari, masa pralaya (kehancuran) tinggal menunggu waktu,” kata Dibia.

Dibia bersama seniman Theodora Retno Maruti tampil menjadi narasumber dalam Widyatula (sarasehan) Seni Tari bertajuk Pertunjukan Tradisi dan Ritus Air sebagai rangkaian agenda Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44.

Masyarakat Bali, ujar Dibia, juga mengkonsepsikan air menjadi tiga status yakni yeh, toya dan tirta. “Yeh” adalah air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, minum, masak, mencuci, mengairi sawah, dan lain sebagainya.

Sementara “toya” adalah air yang diambil dari tempat-tempat suci yang sudah dimuliakan seperti di Beji. Terakhir, “tirta” adalah air yang sudah mengalami proses penyucian melalui doa, puja, dan mantra dari pemangku maupun pendeta.

Baca Juga:  Demo Batalkan KTT G20, Mahasiswa Papua Bentrok dengan Ormas di Renon

“Yeh, toya, dan tirta adalah tiga status air yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Bali. Ketiga macam air ini bisa digunakan dalam ritus air yang terjadi dalam seni pertunjukan,” ucap budayawan yang juga pencipta berbagai tari Bali itu.

Dibia menambahkan, dalam kebiasaan seni pertunjukan, perihal air ini bisa diperagakan, divisualkan, diverbalkan, diceritakan dan bisa pula dibuatkan lakonnya. “Ada banyak lakon yang ceritanya atau pusatnya tentang kemuliaan air,” ujarnya.

Ia mencontohkan lakon terkait air juga terdapat dalam epos Mahabharata, diantaranya ketika gugurnya Bhisma. Sebelum gugur, Bhisma meminta air yang utama, air yang ala ksatria.

Sedangkan dari sisi gerakan yang berkaitan dengan air, dalam seni tari ada gerakan Ngombak (berdiri naik turun), gerakan Lasan Megat Yeh (gerakan kadal yang menyeberangi sungai). Ada pula Tabuh Ujan Mas, Tabuh Palgunawarsa dan sebagainya.

“Hal-hal yang berkaitan dengan air, banyak bisa diungkapkan melalui seni pertunjukan. Seni pertunjukan juga sudah lama mengajak para pemirsanya untuk tetap melestarikan air,” kata peraih penghargaan Padma Shri dari Pemerintah India itu.

Baca Juga:  PKM Unwar Sulap Nila dan Kelapa Jadi Cuan Warga Bebetin

Terkait dengan tema pelaksanaan PKB ke-44 yakni Danu Kerthi Huluning Amreta, Memuliakan Air Sumber Kehidupan, menurut Dibia juga sudah tertuang dalam berbagai garapan pergelaran.

Seperti halnya dalam Sendratari Catur Kumba Mahosadhi saat pergelaran perdana, sudah jelas bagaimana air dijadikan pokok persoalan dan di tengahnya ada pertunjukan yang betul-betul memvisualkan air.

Selain itu, sejumlah sanggar atau sekaa telah memasukkan tema terkait air ini secara verbal. Ada pula yang memasukkan dalam cerita yang sesungguhnya tidak punya alur air, tetapi dibicarakan sebagai sebuah bahan dialog.

“Jadi, itulah cara-cara seniman untuk memasukkan pesan air agar relevan dengan konteks pertunjukan. Dalam banyak hal, para penonton senantiasa diingatkan untuk tidak mencemari air, melainkan senantiasa menjaga kelestarian air sebagai sumber kehidupan,” ucap Dibia.

Sementara itu, maestro tari Jawa klasik Theodora Retno Maruti di awal pemaparannya mengulas kegunaan air dalam upacara adat Jawa seperti dalam upacara pernikahan, mitoni (upacara calon ibu yang sedang mengandung) dan upacara teddak siten (upacara anak berusia 7 atau 8 bulan).

Baca Juga:  Polisi Tetapkan Tiga DPO Penusuk Polisi di Kuta

Retno Maruti pun mengulas mengenai sifat air dalam tari Jawa. Menurut dia, sifat air yang tenang, mengalir, namun memiliki kekuatan yang dahsyat, juga menjadi salah satu karakter dalam tari Jawa (puteri dan putera alus).

“Gerakan-gerakannya selalu mengalir, tenang tetapi berwibawa. Penari dapat mengendapkan emosinya sehingga orang yang melihatnya serasa mendapat siraman air yang menyejukkan dan membawa rasa damai,” ujarnya.

Melalui gerakan yang dibawakan, orang tidak hanya melihat dengan mata tetapi lebih dapat merasakan dengan hati, dari lubuk hati yang paling dalam.

Implementasi air dalam karya tari Jawa diantaranya bisa dilihat dalam Sendratari Ramayana Prambanan, Roro Mendut, The Amazing Bedaya Legong Calonarang, Arka Suta dan Bimasuci karya Sentot S.*BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -Iklan Galungan DPRD BadungIklan Galungan Pemkab BadungIklan Galungan PDAM BadungIklan Galungan DPRD Provinsi Bali Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR