Kubutambahan, baliwakenews.com
Upaya menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan antarumat beragama kembali diwujudkan melalui Upakara Yadnya Patidana, Pemarisuda Jagat, dan Doa Bersama Lintas Agama yang digelar di Pura Pelantikan, Siti Inggil, Puri Kasih Healing Bali, Senin (7/7). Upacara spiritual ini diinisiasi oleh Yayasan BOA, Yayasan Bali Mula, Paiketan Krama Bali, dan tokoh-tokoh masyarakat Bali sebagai bagian dari pelestarian nilai-nilai Tri Hita Karana harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra, M.Si, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk aksi nyata menjaga keharmonisan semesta. Ia didampingi jajaran pengurus, termasuk Bendahara Umum I Made Sumerta, S.E., M.M.Ak, Pembina Dr. I Made Swasti Puja, S.E., M.Fil.H, serta sejumlah tokoh strategis Paiketan lainnya.
“Paiketan Krama Bali berkomitmen hadir dalam kegiatan keagamaan yang disandingkan dengan tindakan nyata menjaga alam dan sesama. Melalui Patidana dan Pemarisuda Jagat, kami memohon kerahayuan jagat, serta kesucian dan keharmonisan sekala-niskala,” ujar Jondra.
Rangkaian acara dimulai dengan penanaman pohon suci, seperti Rudraksha, Bilwa, dan Bodhi, sebagai simbol penghormatan terhadap manifestasi Tuhan. Jenis lain seperti Cempaka, Sandat, Cendana, dan Matoa juga turut ditanam di area seluas 1 hektar tersebut. Tak hanya simbolis, penanaman ini disertai pembuatan biopori sebagai langkah menjaga daya resap tanah.
Penasihat Paiketan Krama Bali, Ida Sri Bhagawan Yogananda, memimpin doa dan melantunkan 11 Anuvaka Mantram Rudram dalam suasana penuh kekhusyukan. Ia menegaskan bahwa menanam pohon adalah yadnya nyata dalam kehidupan umat Hindu. “Penanaman pohon adalah bentuk nyata persembahan kepada alam. Ini bagian dari Tri Hita Karana dan bentuk bhakti menjaga keselarasan hidup,” jelas Ida Sri Bhagawan.
Upacara ini menjadi lanjutan dari Doa Bersama Antarumat Beragama yang pertama kali dilaksanakan pada 12 Oktober 2009 di Monumen Bajra Sandhi. Kegiatan tersebut kini kembali digelorakan dengan semangat yang sama. Ketua Yayasan BOA, Prof. Dr. Ir. Ni Luh Kartini, M.S., menyebut kegiatan ini sebagai buah komitmen lintas iman dalam menjaga Pulau Dewata secara spiritual dan ekologis.
Tokoh sekaligus pendiri Yayasan BOA dan Yayasan Bali Mula, Dra. Luh Terry Yuliandriana Seputra, menambahkan bahwa semua kegiatan dilakukan dengan tulus ikhlas sebagai persembahan kepada alam semesta.
Upacara Patidana yang dipimpin oleh Biksu dan Jro Mangku Gede, dan dilanjutkan dengan Pemarisuda Jagat yang dipuput oleh Jro Mangku Gede Desa Bulian bersama para tokoh adat, didasari oleh keputusan bersama saat rapat lintas umat pada 19 Juni 2025. Dalam prosesi tersebut, umat Muslim, Kristen, Buddha, dan Hindu turut serta berdoa bersama demi keselamatan Bali dan Nusantara.
“Patidana adalah bentuk kasih sayang spiritual kepada leluhur, sedangkan Pemarisuda Jagat adalah penyucian jagat agar alam kembali suci dan tenteram,” ujar salah satu pemuput acara.
Ritual ini sekaligus menjadi ruang refleksi akan pentingnya kesadaran ekologis dan spiritual dalam menjaga bumi pertiwi. Nilai-nilai bhakti, kebajikan, dan kerukunan menjadi semangat utama dalam upacara yang dihadiri ratusan peserta ini. BWN-05


































