Singaraja, Baliwakenews.com
Tragedi banjir yang melanda Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Jumat (12/6/2026), menyisakan duka mendalam. Satu rumah warga roboh diterjang luapan sungai dan merenggut nyawa seorang mahasiswa. Di tengah musibah itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menegaskan bahwa persoalan sampah yang menumpuk di aliran sungai menjadi salah satu penyebab utama bencana tersebut.
Didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna, Bupati Sutjidra turun langsung meninjau lokasi terdampak banjir sekaligus menyerahkan bantuan kepada keluarga korban.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Buleleng sejak pagi menyebabkan debit air sungai di Dusun Tista, Desa Baktiseraga, meningkat drastis hingga meluap. Arus deras kemudian menggerus sebuah rumah di kawasan Griya Mahadewa hingga roboh.
“Ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Masih banyak sampah dari wilayah hulu yang terbawa arus dan menyumbat aliran sungai sehingga menyebabkan air meluap. Akibatnya, rumah warga tergerus hingga menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa,” kata Sutjidra di sela peninjauan.
Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah maupun lokasi membuang sisa tebangan pohon.
“Ke depan, fokus kita adalah menyadarkan masyarakat agar tidak membuang sampah atau bekas tebangan pohon ke sungai di wilayah masing-masing. Persoalan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran bersama,” tegasnya.
Tak hanya menyoroti persoalan sampah, Sutjidra juga mengungkapkan akan melakukan evaluasi terhadap perizinan pembangunan yang berada di sekitar sempadan sungai.
Pemerintah Kabupaten Buleleng, melalui koordinasi dengan Dinas PUPR-Perkim, akan memperketat pengawasan terhadap pembangunan rumah komersial maupun rumah subsidi agar tidak melanggar ketentuan batas sempadan sungai.
“Rumah masyarakat yang berada di sekitar sempadan sungai harus memenuhi persyaratan. Sempadan tidak boleh digunakan untuk membangun karena sangat berbahaya. Saat hujan lebat seperti sekarang, banjir bisa langsung menggerus bangunan,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Buleleng Putu Gopi Suparnaca membenarkan bahwa rumah yang roboh merupakan tempat tinggal seorang warga asal Kampung Kajanan yang tinggal bersama orang tuanya di Dusun Tista.
Berdasarkan keterangan warga sekitar, saat rumah ambruk diterjang arus, korban sedang tertidur di dalam rumah.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, aparat pemerintah, dan warga setempat langsung melakukan pencarian. Upaya gotong royong itu akhirnya membuahkan hasil. Korban, yang diketahui merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Buleleng, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di bawah reruntuhan bangunan.
“Korban ditemukan di bawah rumah, di aliran sungai kecil, tertindih kasur dan reruntuhan tembok,” ungkap Putu Gopi.
Tragedi di Baktiseraga menjadi peringatan keras bahwa ancaman banjir bukan hanya dipicu faktor cuaca ekstrem. Kebiasaan membuang sampah sembarangan dan pembangunan yang mengabaikan sempadan sungai dapat memperbesar risiko bencana dan mengancam keselamatan warga. BWN-03

































