Mangupura, Baliwakenews.com – Suasana berbeda terasa di kawasan luar Pura Luhur Uluwatu saat perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang, Sabtu (5/9). Tradisi yang telah rutin digelar sekitar 15 tahun itu berlangsung meriah, lengkap dengan berbagai rangkaian kegiatan dan tari-tarian yang menarik perhatian wisatawan.
Perayaan Tumpek Uye di Uluwatu tidak hanya menjadi momentum keagamaan umat Hindu untuk memuliakan satwa, tetapi juga menjadi atraksi budaya yang memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung ke kawasan Uluwatu.
Kemeriahan tersebut ke depan bahkan direncanakan terus ditingkatkan.
Pangempon Pura Luhur Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya alias Turah Joko mengatakan, pelaksanaan Tumpek Uye di Uluwatu telah berlangsung sekitar 15 tahun.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup, khususnya kawanan monyet yang hidup di kawasan Uluwatu
“Mudah-mudahan ke depannya Jro Bendesa kami yang baru, Jro Mangku, inovasinya semakin banyak. Tentunya nanti bisa dibuat lebih meriah lagi,” ujarnya.
Interaksi dengan kawanan monyet di Uluwatu sendiri telah dilakukan sejak lama. Salah satunya melalui penyediaan kolam sebagai bentuk implementasi Tumpek Uye dalam mengasihi sesama makhluk hidup.
Ia juga berharap monyet-monyet di kawasan Uluwatu semakin jinak serta kebutuhan makanannya mendapat perhatian lebih dari pengelola.
Bendesa Adat Pecatu, Jro Made Mangku Sutama menjelaskan, Tumpek Uye merupakan hari suci umat Hindu untuk memuliakan hewan yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Pada momentum tersebut, umat juga memuja
Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Siwa Pasupati.
Pelaksanaan Tumpek Uye juga sesuai surat Gubernur Bali melalui Dinas Pemajuan Masyarakat Desa, Desa Adat, dan dilaksanakan setiap enam bulan sekali.
Momentum tersebut menjadi ruang bagi kawanan monyet Uluwatu untuk menikmati hari raya sekaligus mengingatkan manusia agar bersyukur terhadap keberadaan satwa.
Kemeriahan perayaan Tumpek Uye di Uluwatu juga tidak terlepas dari keberadaan sekitar 650 ekor monyet yang hidup di kawasan tersebut. Satwa ini bukan hanya menjadi bagian dari tradisi dan lingkungan, tetapi juga telah menjadi salah satu daya tarik wisata di Pecatu.
Keberadaan monyet bahkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Pecatu karena menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Uluwatu.
Karena itu, ke depan pihaknya bersama prajuru adat yang baru dan masyarakat Desa Pecatu berencana menghadirkan sejumlah inovasi agar perayaan Tumpek Uye tidak berjalan monoton.
Salah satu rencana yang paling menarik adalah penambahan gebogan buah khusus untuk monyet. Jika saat ini tersedia dua gebogan besar, jumlahnya direncanakan ditambah lima sehingga menjadi tujuh gebogan.
Dengan demikian, tujuh kelompok monyet yang berada di kawasan Uluwatu masing-masing akan memperoleh satu gebogan.
“Jika saat ini tersedia dua gebogan besar, jumlahnya direncanakan ditambah lima sehingga tujuh kelompok monyet di kawasan Uluwatu masing-masing memperoleh satu gebogan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan membuka ruang bagi wisatawan maupun masyarakat yang ingin memberikan punia kepada monyet. Namun, penyaluran makanan nantinya akan diatur agar tidak terjadi perebutan antarmonyet.
“Kami akan mencoba lagi enam bulan yang lebih baik dari sekarang ini. Kami akan rembug di desa adat apa yang harus kami lakukan, sehingga jangan monoton. Harus ada inovasi-inovasi yang lebih baik,” tegasnya.
Penyarikan Desa Adat Pecatu yang juga mantan Manager DTW Kawasan Luar Pura Uluwatu, Wayan Wijana menyebutkan, populasi monyet di Uluwatu saat ini sekitar 650 ekor. Jumlah tersebut masih berkembang, namun tidak signifikan karena telah dilakukan berbagai langkah pengelolaan populasi.
Menurutnya, monyet merupakan salah satu daya tarik tersendiri di Uluwatu. Selain panorama alam dan pertunjukan Kecak, keberadaan monyet menjadi bagian dari konsep “The 5 Beautiful Beauties” yang menjadi daya tarik kawasan tersebut.
“Sebagai upaya juga setiap hari Minggu kita lakukan feeding monkey. Setiap wisatawan atau pengunjung boleh memberikan makanan, tetapi dikoordinir oleh manajemen,” jelasnya.
Pengelola juga melakukan pemeriksaan kesehatan monyet minimal enam bulan sekali, meliputi pemeriksaan taring, kesehatan dan darah. Bahkan, pihaknya telah memiliki sertifikat yang menyatakan monyet di Uluwatu dan Labuan Sait bebas rabies.
Dari sisi keselamatan, manajemen juga bekerja sama dengan rumah sakit atau klinik terdekat untuk menangani kecelakaan yang dialami pengunjung maupun pemedek. Penanganan awal diberikan secara gratis sebagai bentuk tanggung jawab pengelola.
“Kita siapkan ambulans yang standby 24 jam dan tenaga perawat juga kita standby. Dengan demikian, harapan kita bisa memberikan proteksi maupun rasa aman dan nyaman pada pengunjung,” pungkas Wijana. BWN-04

































