Denpasar, Baliwakenws.com
Eskalasi konflik yang melibatkan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Sejumlah media internasional melaporkan harga melonjak tajam akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama di jalur strategis Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent melonjak sekitar 10 persen dalam perdagangan awal pekan setelah meningkatnya tensi militer di kawasan tersebut. Reuters melaporkan analis memperingatkan harga bisa menembus US$100 per barel jika konflik berlanjut dan mengganggu distribusi minyak secara signifikan.
Laporan Reuters menyebut kekhawatiran terbesar pasar tertuju pada potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika akses pelayaran di selat tersebut terganggu, suplai global berisiko menyusut drastis dalam waktu singkat.
Media berbasis di Qatar, Al Jazeera, juga melaporkan harga minyak melonjak tajam setelah serangan militer di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi. Dalam laporannya, Al Jazeera menyebut pasar energi bereaksi cepat terhadap risiko geopolitik, meskipun gangguan fisik belum sepenuhnya terjadi.
Sementara itu, Bloomberg menyoroti hampir terhentinya lalu lintas kapal tanker di sekitar Teluk sebagai faktor yang memperkuat tekanan harga. Bloomberg mencatat lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya premi risiko atau risk premium yang ditambahkan pelaku pasar akibat ketidakpastian keamanan jalur distribusi.
Adapun The Wall Street Journal melaporkan harga minyak sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir sebelum akhirnya sedikit terkoreksi. Namun demikian, koran bisnis tersebut menegaskan volatilitas masih tinggi dan pergerakan harga sangat bergantung pada perkembangan situasi militer.
Selain faktor konflik, Reuters juga mencatat kelompok produsen minyak dalam aliansi OPEC+ memang berencana meningkatkan produksi. Namun analis menilai tambahan produksi tersebut belum tentu cukup untuk menutup potensi kekurangan pasokan apabila jalur distribusi utama benar-benar terganggu.
Sejumlah analis energi yang dikutip media internasional sepakat bahwa dampak konflik tidak hanya berhenti pada harga minyak mentah, tetapi berpotensi memicu tekanan inflasi global. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan ongkos logistik dan transportasi, yang pada akhirnya membebani konsumen.
Hingga kini, pasar masih memantau perkembangan konflik dan respons negara-negara produsen minyak besar. Namun merujuk laporan Reuters, Bloomberg, Al Jazeera, dan The Wall Street Journal, satu hal yang pasti: selama ketidakpastian geopolitik di sekitar Iran belum mereda, harga minyak dunia akan tetap berada dalam tekanan naik. BWN-01


































