Konflik bersenjata di Timur Tengah mulai mengguncang sektor penerbangan internasional dan memicu kekhawatiran di Bali. Isu pembatalan sejumlah rute luar negeri berembus. Di tengah ancaman itu, DPRD Tabanan memilih bersiap, dengan mendorong pasar wisatawan domestik sebagai tameng jika turis asing merosot.
Gejolak konflik di Timur Tengah memantik alarm bagi industri pariwisata Bali. Informasi mengenai pembatalan sejumlah penerbangan internasional dari dan menuju Bali beredar di tengah eskalasi situasi global. Dampaknya dikhawatirkan menyeret kunjungan wisatawan mancanegara, yang selama ini menjadi tulang punggung devisa Pulau Dewata.
Di Kabupaten Tabanan, salah satu kantong destinasi wisata favorit turis asing, penurunan kunjungan belum terpantau. Namun, kewaspadaan mulai dibangun.
Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Tabanan I Gusti Nyoman Omardani mengatakan dampak konflik global, termasuk potensi penurunan wisatawan asing, berada dalam kewenangan Pemerintah Pusat. “Persoalan konflik Timur Tengah dan dampaknya terhadap penerbangan internasional itu ranahnya pemerintah pusat. Termasuk jika ada penurunan wisatawan asing secara nasional,” kata Omardani saat dikonfirmasi, Senin, 2 Maret 2026.
Meski demikian, dia menegaskan pemerintah daerah tidak boleh pasif. Tabanan, kata dia, harus menyiapkan skenario mitigasi. Salah satunya dengan mengintensifkan pasar domestik.
“Kami di Tabanan pasti lebih mengintensifkan wisatawan lokal. Apalagi ini menjelang libur panjang Idul Fitri. Momentum itu harus dimaksimalkan,” ujar politikus tersebut.
Tabanan selama ini dikenal dengan sejumlah daya tarik wisata alam dan budaya yang menyedot turis mancanegara. Jika gejolak global berdampak pada mobilitas internasional, sektor perhotelan, restoran, hingga pelaku usaha kecil di sekitar destinasi terancam terdampak berantai.
Omardani meminta Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan bergerak cepat memperkuat koordinasi dengan pengelola Daya Tarik Wisata (DTW). Strategi promosi dan paket wisata untuk pasar domestik perlu dipacu agar tingkat hunian dan kunjungan tetap terjaga.
“Itu sudah menjadi garis koordinasi dari Dinas Pariwisata dengan DTW yang ada di Kabupaten Tabanan. Jangan sampai kita hanya menunggu situasi memburuk baru bergerak,” katanya.
Ia menambahkan, diversifikasi pasar wisata bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Ketergantungan pada wisatawan mancanegara, menurut dia, harus diimbangi dengan penguatan pasar dalam negeri sebagai penyangga ketika terjadi guncangan global.
Hingga awal Maret 2026, belum ada data resmi yang menunjukkan penurunan signifikan kunjungan wisatawan asing ke Tabanan. Namun, dinamika konflik internasional dan potensi gangguan penerbangan dinilai sebagai variabel risiko yang tidak bisa diabaikan.BWN-06

































