Badung, baliwakenews.com – Pulau Dewata tak lagi bersinar seterang dahulu. “Jiwa Kuta hilang, raga Canggu terjajah” bukan sekadar frasa puitis, tetapi jeritan batin dari masyarakat Bali yang merasa tanah kelahiran mereka kian hari kian asing.
Kuta, dulunya ikon wisata penuh semangat budaya dan keterbukaan khas Bali, kini berubah menjadi lorong sepi yang dihiasi deretan toko tutup dan hotel-hotel bertarif miring. Turis lokal makin jarang terlihat. Aroma khas dupa, gamelan, dan suara tawa pedagang kaki lima perlahan tergantikan oleh deru motor besar, musik EDM, dan geliat industri pariwisata yang kehilangan arah.
Sementara itu, Canggu yang beberapa tahun terakhir menjadi magnet bagi para digital nomad dan investor asing menampilkan wajah yang berbeda, modern, sibuk, dan penuh warna. Tapi warna itu bukanlah warna Bali. Ia lebih mirip tiruan barat yang dipoles di atas tanah adat. Vila-vila mewah menjulang menggantikan sawah, suara bahasa asing lebih dominan dari logat Bali, dan harga properti melambung jauh dari jangkauan warga lokal.
Warga pun merasa seperti tamu di tanah sendiri.
“Kami tak bisa lagi beli rumah di desa sendiri. Semua diborong bule,” ujar Wayan, seorang petani yang kini menjadi tukang parkir di dekat pantai Batu Bolong. Ironisnya, anak-anak muda Bali lebih banyak yang keluar kampung untuk mencari hidup di kota karena tak mampu bersaing dengan gelombang kapital asing yang masuk tanpa filter.
Pariwisata Bali memang memberi dampak ekonomi besar, tapi di balik itu, terjadi penggerusan identitas. Apa jadinya ketika Bali hanya menjadi latar eksotis untuk konten Instagram, tanpa pemahaman pada nilai sakralnya?
Gelapnya dunia pariwisata Bali hari ini bukan karena turis datang, tapi karena regulasi longgar, alih fungsi lahan sembarangan, dan ketimpangan antara warga lokal dan pemodal besar. Pemerintah daerah dinilai belum cukup tegas mengatur ruang hidup agar pembangunan tetap berpihak pada masyarakat Bali.
Kini, di tengah derasnya komersialisasi dan penetrasi budaya luar, muncul satu pertanyaan mendasar: Masihkah Bali untuk orang Bali?
Pencarian jati diri Bali di tengah lautan globalisasi adalah perjuangan yang tak mudah. Tapi jika jiwa Kuta benar-benar hilang, dan raga Canggu terus dijajah, maka gelapnya dunia pariwisata Bali hanya tinggal menunggu senja terakhir. BWN-01





























