Mangupura, Baliwakenews.com – Aktivitas pelayaran di perairan selatan Bali perlu mendapat perhatian serius dalam beberapa hari ke depan. Gelombang hingga 4 meter diprakirakan terjadi pada 14–17 September 2026, bersamaan dengan tiupan angin yang dapat meningkatkan risiko keselamatan di laut.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menyebut sejumlah wilayah selatan Bali berpotensi mengalami gelombang tinggi 2,5–4 meter. Kondisi tersebut diprakirakan terjadi di Selat Bali bagian selatan, perairan selatan Pulau Bali, serta Selat Lombok bagian selatan.
Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, meminta masyarakat, nelayan maupun operator kapal tidak mengabaikan perkembangan cuaca maritim sebelum dan saat melakukan perjalanan.
“Gelombang hingga empat meter berpeluang terjadi di Selat Bali bagian selatan, perairan selatan Pulau Bali, serta Selat Lombok bagian selatan,” ungkap Cahyo, Minggu (13/9).
Yang perlu menjadi perhatian, risiko keselamatan pelayaran sebenarnya sudah dapat muncul pada kondisi gelombang dan angin yang jauh lebih rendah dari angka maksimum 4 meter tersebut.
BMKG mencatat perahu nelayan mulai berisiko terhadap keselamatan pelayaran ketika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter.
Sementara kapal tongkang menghadapi kondisi berisiko ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang 1,5 meter. Adapun kapal ferry mulai menghadapi kondisi yang perlu diwaspadai ketika kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
Artinya, potensi gelombang hingga 4 meter di sejumlah perairan selatan Bali menjadi kondisi yang patut diantisipasi secara serius oleh pelaku pelayaran, khususnya kapal yang beraktivitas di jalur tersebut.
Selain wilayah yang berpotensi mengalami gelombang 2,5–4 meter, sejumlah perairan Bali lainnya juga diprakirakan mengalami gelombang 1,25–2,5 meter. Wilayah tersebut meliputi perairan utara Pulau Bali, Selat Badung, dan Selat Lombok bagian utara.
Kondisi laut tersebut berkaitan dengan pola angin yang berkembang di sekitar Bali. Berdasarkan kondisi sinoptik BMKG, angin di perairan utara Bali umumnya bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan 4–25 knot.
Sedangkan di perairan selatan Bali, angin bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 6–20 knot. Pola dan kecepatan angin tersebut turut memengaruhi peningkatan tinggi gelombang di wilayah perairan Bali.
Karena itu, pelaku pelayaran diminta tidak hanya melihat kondisi laut ketika hendak berangkat. Perkembangan cuaca dan gelombang perlu dipantau secara berkala karena kondisi perairan dapat berubah mengikuti pola angin dan cuaca.
“Kami mengimbau seluruh pengguna jasa pelayaran untuk terus memantau informasi cuaca terkini sebelum beraktivitas di laut, terutama di wilayah perairan selatan Bali, Selat Bali bagian selatan, dan Selat Lombok bagian selatan yang berpotensi mengalami gelombang hingga 4 meter,” tegas Cahyo. BWN-04































