Mangupura, baliwakenews.com
Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak selalu menjadi ancaman bagi daerah berbasis pariwisata seperti Bali, khususnya Kabupaten Badung. Di tengah gejolak ekonomi global, kenaikan dolar justru disebut membuka peluang peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah apabila disikapi dengan strategi yang tepat.
Ketua BK DPRD Kabupaten Badung yang juga Dosen Ekonomi Pascasarjana Universitas Mahendradatta, Dr. Drs. Putu Parwata, MK, MM mengatakan, pemerintah daerah bersama pelaku usaha perlu menerapkan kebijakan mikro yang mampu mengoptimalkan dampak positif dari penguatan dolar terhadap sektor pariwisata.
Menurut alumni Doktor Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana ini, sektor pariwisata Badung memiliki peluang besar memperoleh keuntungan karena wisatawan mancanegara membawa valuta asing dengan nilai tukar yang lebih tinggi.
“Daerah berbasis pariwisata seperti Badung justru memiliki peluang tumbuh saat dolar naik. Wisatawan asing membawa dolar dengan nilai lebih tinggi sehingga potensi belanja wisatawan juga meningkat,” ujarnya, Senin (18/5).
Ia menjelaskan, langkah pertama yang perlu dilakukan pelaku usaha adalah memperkuat efisiensi operasional. Efisiensi dinilai mampu menekan biaya usaha sekaligus meningkatkan peluang keuntungan di tengah dinamika ekonomi global.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan produk lokal berbasis pariwisata, mulai dari hotel, restoran, vila, UMKM hingga industri kreatif. Pemerintah disebut perlu hadir melalui kebijakan yang mampu mendorong daya saing usaha lokal.
“Produk lokal harus diperkuat. Pemerintah perlu memberi stimulus dan pembinaan agar UMKM serta industri pariwisata lokal mampu berkembang dan mengambil peluang dari kondisi ini,” katanya.
Putu Parwata juga menyoroti pentingnya digitalisasi promosi pariwisata. Menurutnya, promosi digital harus diperkuat untuk menarik lebih banyak wisatawan asing datang ke Bali dan Badung.
Di sisi lain, kualitas pariwisata juga dinilai menjadi faktor penting agar wisatawan memiliki tingkat pengeluaran lebih tinggi selama berada di Bali.
“Pariwisata harus memberikan kualitas layanan yang baik sehingga wisatawan nyaman dan spending mereka meningkat. Jika pengeluaran wisatawan tinggi, maka pertumbuhan ekonomi Badung juga ikut naik,” jelasnya.
Tak hanya sektor usaha, ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menerapkan pengelolaan keuangan rumah tangga secara efektif dan efisien di tengah kondisi ekonomi global yang dinamis.
Pengembangan sumber daya manusia (SDM) juga dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing sektor pariwisata. SDM yang memiliki keterampilan dan kualitas baik diyakini mampu mendukung pertumbuhan industri pariwisata dan ekonomi kreatif.
Lebih lanjut, Putu Parwata menegaskan bahwa kenaikan dolar seharusnya dipandang sebagai momentum untuk memperkuat ekonomi daerah, bukan semata ancaman.
“Kenaikan dolar tidak selalu menjadi ancaman, tetapi bisa menjadi peluang bagi masyarakat untuk tumbuh dan beradaptasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, selain penguatan sektor mikro, pemerintah juga perlu mendorong kebijakan makro melalui peningkatan ekspor produk lokal Bali, seperti tenun endek, lukisan, dan berbagai produk industri kreatif lainnya. BWN-05


































