BADUNG, baliwakenews.com
Terik siang, Jumat (20/2/2026), tak menyurutkan semangat para pemuda di Banjar Dualang, Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Hari itu, giliran Sekaa Teruna Teruni (STT) Catur Abadi dinilai dalam lomba ogoh-ogoh yang digelar Pemerintah Kabupaten Badung. Bukan sekadar kompetisi, momen ini menjadi panggung pembuktian: bagaimana tradisi, kreativitas, dan kerja kolektif menyatu dalam satu karya.
Di balik ogoh-ogoh yang berdiri gagah, tersimpan proses panjang yang dimulai sejak 28 Desember 2025. Sekitar dua bulan, para muda-mudi banjar bergelut dengan bambu, tali, dan ide yang terus dimatangkan lewat sangkep (rapat). Ketua STT Catur Abadi, Dewa Gede Dewandi Putra Pratama, menyebut bahwa konsep karya lahir dari diskusi bersama, bahkan melibatkan para penglingsir untuk menggali nilai dan cerita yang lebih dalam.
“Kami tidak hanya membuat bentuk, tapi juga makna. Karena itu kami libatkan yang lebih tua,” ujarnya.
Yang menarik, ogoh-ogoh ini sepenuhnya mengandalkan bahan organik. Tidak ada styrofoam. Struktur dibangun dari anyaman bambu dan teknik tradisional ulat-ulatan. Sebagian besar bahan bahkan diperoleh dari lingkungan lokal Sibanggede.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Kabupaten Badung yang menggelontorkan dana motivasi sebesar Rp40 juta. Bantuan ini diakui menjadi penyemangat tersendiri bagi para pemuda untuk berkarya lebih maksimal.
Di Balik Bentuk “Tajen Bubar”, Ada Makna Tabuh Rah
Panglingsir sekaligus pembina STT, Dewa Ketut Sudjana, mengungkapkan bahwa ogoh-ogoh yang ditampilkan mengusung tema Tabuh Rah dengan judul Sang Buta Kala Dasa Bumi. Sekilas, tampilannya menyerupai suasana tajen (sabung ayam) yang bubar. Namun, di balik visual tersebut tersimpan filosofi ritual.
“Tabuh Rah adalah bagian dari rangkaian upacara Nyepi, khususnya saat pengerupukan di catus pata. Ini sebagai bentuk nyomya atau menetralisir Bhuta Kala,” jelasnya.
Tradisi ini, lanjutnya, telah diwariskan secara turun-temurun dalam ajaran Hindu, biasanya dilaksanakan sebanyak telung saat (tiga kali) sebagai simbol keseimbangan.
Kendala Teknis dan Pentingnya Komunikasi
Dalam proses pengerjaan, kendala tetap muncul, terutama pada tahap konstruksi. Namun hal tersebut dianggap wajar mengingat kompleksitas struktur ogoh-ogoh.
“Namanya kerja konstruksi, pasti ada kendala. Tapi masih bisa diatasi,” ungkap Dewa Dewandi
Selain teknis, faktor komunikasi menjadi kunci. Koordinasi antaranggota sangat menentukan keberhasilan dalam menyatukan konsep dengan realisasi di lapangan.
Menariknya, tahun ini STT Catur Abadi tidak memasang target juara. Fokus utama mereka adalah memperkuat kekompakan dan strategi tim.
Penilaian: Antara Tradisi, Estetika, dan Teknologi
Salah satu juri, I Gusti Ngurah Artawan, menjelaskan bahwa penilaian lomba mengacu pada tiga pilar utama: Satyam, Siwam, Sundaram—kebenaran, kesucian, dan keindahan.
Penilaian mencakup narasi atau sinopsis, aksesoris dan busana, hingga anatomi, kreativitas, inovasi, dan konstruksi. Ia juga menyoroti perkembangan signifikan generasi muda Badung, terutama dalam menggabungkan tradisi dengan teknologi.
“Ada peningkatan luar biasa. Teknologi memberi nilai tambah, tapi harus mendukung gerak, bukan sekadar hiasan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan juri lainnya, I Made Musna, yang menekankan pentingnya penguatan karakter, terutama dari sisi pewarnaan sebagai identitas visual utama. Sementara I Putu Bayu Ambara Putra melihat adanya kemajuan signifikan pada aspek anatomi dan inovasi bahan.
Lebih dari Sekadar Lomba
Di tengah kompetisi yang semakin ketat, ogoh-ogoh karya STT Catur Abadi menjadi cerminan bahwa tradisi tidak pernah statis. Ia tumbuh, beradaptasi, dan menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akar.
Dari bambu yang dianyam hingga filosofi yang dihidupkan, karya ini bukan hanya tontonan malam pengerupukan. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, warisan, dan semangat generasi muda Bali menjaga identitasnya di tengah perubahan zaman. BWN-03


































