Bupati Giri Prasta: Tidak Ada Pawai Ogoh-ogoh, Masyarakat Badung Paham Betul Kondisi Saat Ini  

Iklan Home Page

Mangupura, baliwakenews.com

Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, S. Sos, Kamis 27 Januari 2022, usai menyambut Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang berkunjung ke Mal Pelayanan Publik Kabupaten Badung, menegaskan tidak ada pawai ogoh-ogoh di Badung. Karena 122 Bendesa adat yang ada di Badung sudah sepakat, akan hal tersebut. Bupati mengapresiasi masyarakat Badung khususnya para Yowana (generasi muda) yang sudah sangat memahami kondisi saat ini di tengah pandemi Covid-19.

“Yang jelas dari 122 bendesa adat dan yowana se- kabupaten Badung, sudah paham sekali. Inisiatif ini bukan dari kita tapi dari yowana. Yowana kita di Kabupaten Badung sudah luar biasa, hormat sekali dengan tatanan darmaning leluhur, darmaning agama dan darmaning negara, ” ungkap Bupati Giri Prasta.

Lebih lanjut ditegaskan berkenaan dengan ogoh-ogoh ini akan disesuaikan dengan protokol kesehatan yang ada di pusat. Apalagi sekarang masyarakat melalui bendesanya dan sekaa truna sudah mengambil pilihan. “Yang penting, saya tidak mau makna dari brata penyepian, pengerupukan, dantawur ini termasuk dresta langu berkurang, ” tandanya.

Baca Juga:  Pelepasan Tim Kejurnas Remaja IPSI Bali

Saat pengerupukan lanjut Bupati Giri Prasta, pertama akan melakukan yang namanya mecaru, setelah proses mecaru di catus pata usai akan dilanjutkan dengan anjangsana di Petang, tepatnya di Ngurah Rai. Setelah itu malamnya dilakukan prosesi untuk pengerupukan. “Saya hanya menginginkan, jangan sampai mengurangi makna dari pada perjalanan proses pengerupukan. Kalau seandainya tidak ada pawai ogoh-ogoh tidak apa- apa yang penting prosesi tetap berjalan. Jadi tidak mengurangi makna, tapi proses berjalan secara adat, ” tuturnya.

Besoknya saat Nyepi, sambungnya, seluruh Bali melaksanakan. “Bahkan bisa menyetop kapal terbang lo, nyepi ini karena sudah warisan. Nah pada saat nyepi ini, melaksanakan catur brata penyepian amati geni, amati karya, amati lelungan dan amati lelanguan, ini yang dilakukan krama umat hindu yang ada di Bali dan luar Bali,” tukasnya.

Baca Juga:  Sekda Adi Arnawa memimpin rapat usulan pembentukan UPTD Pelayanan Perkebunan BATP

Sehari setelah Nyepi atau yang namanya manis Nyepi itu, dimagsud dengan dresta langu. Dresta langu itu semestinya apa yang dilakukan? “Ada pementasan tarian yang sakral, sehingga tetap diingat oleh anak-anak muda kita. Atau dengan tarian kolaborasi yang baru, atau pembacaan lontar, atau nanti ada awig- awig dan perarem yang baru. Itu yang dilakukan saat dresta langu,” tuturnya.

Terkait aturan dari Mabes Polri untuk mereka yang melakukan pawai ogoh-ogoh harus di tes swab PCR terlebih dahulu. Bupati Giri Prasta mengatakan setuju sekali dengan aturan tersebut. Dan tidak boleh lebih dari 50 orang. Bila lebih dari itu maka harus dengan biaya sendiri. “Kalau memang akan melakukan pawai ogoh-ogoh, ya harus di swab. Tapi kami memiliki 122 desa adat, sudah sepakat tidak ada arak-arakan yang begitu banyak mengerahkan massa karena sudah tertib, ” tandasnya.

Baca Juga:  Langgar Protokol Kesehatan, Pemilik Usaha Cafe Diberi Peringatan

Kalau pun ada yang membuat ogoh-ogoh kecil, sambungnya, nanti ogoh-ogoh itu hanya dibawa untuk diupacarai dan langsung di bakar. Tidak ada lagi pawai. “Saya kira masyarakat kabupaten Badung sudah amat paham dengan situasi sekarang ini apalagi yowananya, ” pungkas Bupati Giri Prasta. *BWN-03

Iklan Home Page
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment - Iklan Lapor PajakIklan Waisak Pemkab BadungIklan Waisak PDAM Badung Iklan UNWAR