Kereneng, baliwakenews.com
Beberapa pengurus KONI daerah yang tergolong kategori non kampus (non atlet) mengeluhkan pada PON XXI/Aceh dan Sumut 2024 kesulitan mendapatkan hotel di tempat PON. Khususnya di Aceh dimana fasilitashotel sangat terbatas sehingga banyak yang mencari rumah penduduk untuk disewa selama PON 2024 berlangsung.
Sekretaris Umum (Sekum) KONI Bali, I Nyoman Yamadiputra membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi, Selasa 13 Agustus 2024. Dipaparkannya, di Sumut lebih mendingan karena masih banyak hotel dapat dipakai untuk ofisial dan peserta PON.
“Di Aceh untuk Sekretariat KONI sementara saja kami belum dapat. Rombongan wartawan asal Bali yang akan meliput PON 2024 terpaksa disewakan rumah penduduk dengan harga kamar cukup mahal,” kata Yamadiputra.
Hal itu ia kemukakan karena sebelumnya sempat mensurvey lokasi PON yang berlangsung di dua provinsi tersebut.
Dijelaskannya, rumah penduduk dihargai per kamar Rp850.000 sampai dengan Rp1 juta, yang menggunakan AC. Kamar tanpa pendingin dihargai Rp525.000 sampai Rp750.000 per kamar setiap hari. Hanya kamar saja tanpa sarapan pagi seperti di Hotel. Itu pun harus ditempati 2-3 orang setiap kamar dengan kamar mandi di luar.
Yamadhiputra yang beberapa kali sudah ke Aceh mengadakan rapat dan mempersiapkan penginapan kontingen Bali mengatakan, di sana memang sudah ada apa yang disebut Atlet Village (rencana bangunan tempat penginapan atlet). Namun ia meragukan akan siap pakai saat PON berlangsung, karena masih dilakukan pengerjaan sampai saat ini.
Di lain pihak, Ketua Umum KONI Badung Made Nariana mengatakan kelihatan pelaksanaan PON kali ini seperti pepatah “nafsu besar tenaga kurang”.
Keinginan melaksanakan PON sangat tinggi, tetapi fasilitas ternyata sangat terbatas khususnya di Aceh. Kendati demikian, dirinya menyadari, bagaimanapun PON tersebut harus tetap sukses, sehingga apapun kekurangannya harus dimaklumi. BWN-06































