Mangupura, baliwakenews.com
Menghadapi jaringan penyelundupan yang semakin kreatif dalam menyamarkan barang maupun identitas pelaku, Bea Cukai Ngurah Rai memperkuat sistem pengawasan dengan menggabungkan analisis data, pemetaan risiko penumpang dan teknologi pemindai X-ray. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tetap menjadi pintu masuk Bali yang aman dari peredaran barang-barang terlarang jaringan internasional.
Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean A Ngurah Rai, Wawan Dharmawan, mengatakan pola penyelundupan saat ini semakin beragam. Karena itu, pemeriksaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan pemeriksaan konvensional terhadap barang bawaan penumpang.
Setiap penumpang perlu dilihat berdasarkan profil risiko serta pola perjalanan secara menyeluruh. Salah satu perkembangan modus yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan perjalanan bersama keluarga atau yang dikenal sebagai modus family trip. Jaringan penyelundupan memanfaatkan pasangan suami istri hingga anak-anak untuk menciptakan kesan sebagai wisatawan biasa.
“Modus family trip ini memang menjadi salah satu strategi baru dari jaringan tersebut untuk menurunkan kecurigaan petugas. Biasanya kalau rombongan keluarga, persepsinya adalah wisatawan murni. Namun, kini pola tersebut sudah masuk dalam radar pemantauan ketat kami,” ujar Wawan belum lama ini.
Untuk membaca berbagai potensi risiko tersebut, Bea Cukai Ngurah Rai mengoptimalkan Passenger Analysis Unit (PAU). Unit ini melakukan profiling dan analisis terhadap penumpang yang tiba di Bali dengan menggunakan berbagai indikator risiko. Analisis yang dilakukan tidak hanya melihat hubungan antarpenumpang dalam satu perjalanan. Petugas juga mencermati pekerjaan, latar belakang operasional hingga rekam jejak perjalanan.
Pendekatan tersebut memungkinkan petugas mengidentifikasi pola yang dianggap tidak lazim sebelum penumpang maupun barang melewati seluruh tahapan pemeriksaan. Wawan mengatakan, pelaku penyelundupan juga kerap berupaya membuat perjalanan terlihat normal dengan menggunakan pola transit di sejumlah negara.
Salah satu contoh yang ditemukan adalah pola penerbangan dari Thailand yang tidak langsung menuju Bali, melainkan terlebih dahulu transit di Singapura. Namun, perubahan rute tersebut tidak otomatis membuat perjalanan luput dari pengawasan. Data perjalanan tetap dicocokkan dengan hasil analisis risiko yang dimiliki petugas.
Dengan sistem tersebut, anomali dalam pola perjalanan dapat menjadi salah satu indikator bagi petugas untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain kemampuan personel dan pengolahan data, pengawasan di Bandara Ngurah Rai juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi.
Bea Cukai Ngurah Rai bersinergi dengan Aviation Security (Avsec) Bandara Ngurah Rai dalam mengoptimalkan perangkat pemindai X-ray generasi baru.
Teknologi tersebut digunakan untuk mendukung pemeriksaan terhadap bagasi terdaftar maupun barang bawaan yang dibawa penumpang ke dalam kabin.
Penggunaan teknologi ini menjadi semakin penting seiring semakin beragamnya cara pelaku menyembunyikan barang terlarang. Bentuk kemasan maupun upaya penyamaran tidak lagi menjadi jaminan barang tersebut dapat lolos dari pemeriksaan.
“Melalui integrasi sistem berbasis analisis risiko dan kecanggihan alat pemindai baru ini, barang bukti yang dikemas rapi dalam karton atau kotak-kotak penyamaran tetap akan terbaca jelas oleh tim analis kami di area kargo. Jika terdeteksi adanya indikasi mencurigakan, informasi langsung diteruskan ke tim pemeriksaan di lapangan untuk diarahkan ke Jalur Merah,” tegas Wawan.
Penguatan pengawasan tersebut menunjukkan bahwa strategi Bea Cukai Ngurah Rai kini tidak hanya bertumpu pada pemeriksaan fisik. Data perjalanan, profil penumpang, analisis risiko, teknologi pemindai dan kejelian petugas menjadi satu kesatuan dalam mendeteksi potensi penyelundupan.
Bahkan, pola perjalanan yang terlihat normal sekalipun tetap dapat menjadi bagian dari analisis apabila ditemukan sejumlah indikator yang tidak sesuai.
Dengan pendekatan tersebut, Bea Cukai Ngurah Rai berupaya mempersempit ruang gerak jaringan penyelundupan internasional yang terus mencari celah melalui berbagai bentuk kamuflase.
Termasuk memanfaatkan citra perjalanan keluarga, mengubah rute penerbangan maupun menyamarkan barang dalam berbagai jenis kemasan.
Bea Cukai Ngurah Rai memastikan pengawasan di titik-titik krusial Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai akan terus diperkuat. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga pintu masuk utama Bali tetap aman sekaligus mencegah Pulau Dewata menjadi jalur peredaran barang-barang terlarang dari jaringan internasional. BWN-04
































