Kerobokan, Baliwakenews.com – Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah rumah tangga ternyata bisa disulap menjadi produk bernilai guna. Hal tersebut dipelajari siswa SMP Kalam Kudus Bali melalui edukasi lingkungan yang digelar Komunitas Laksana Becik di bawah naungan Yayasan Laksana Becik Bali, Rabu (23/9).
Kegiatan yang diikuti siswa kelas 7 hingga 9 itu tidak sekadar memberikan pemahaman mengenai dampak buruk pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan. Para siswa juga diajak mengenal secara langsung cara memanfaatkan minyak bekas pakai menjadi produk ramah lingkungan, salah satunya lilin.
Ketua Laksana Becik, Putu Resa Kertawedangga, mengatakan pelajar SMP menjadi sasaran edukasi karena dinilai memiliki peran penting sebagai generasi penerus sekaligus agen perubahan di lingkungan sekitarnya.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap nantinya adik-adik ini bisa menjadi agen perubahan terkait kepedulian terhadap lingkungan,” harapnya.
Menurutnya, edukasi lingkungan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan. Pesan yang diterima para siswa diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat, sehingga kesadaran untuk mengelola limbah dapat tumbuh dari lingkungan paling dekat.
Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya menyimak materi, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru bahwa minyak jelantah masih dapat dimanfaatkan menjadi barang berguna.
Salah satu peserta, Anggun Raya dari kelas 9C, mengaku mendapat pengetahuan baru dari kegiatan tersebut. Ia sebelumnya tidak mengetahui bahwa minyak jelantah dapat diolah menjadi berbagai produk.
“Dari sosialisasi tadi, saya sama teman-teman dapet ilmu baru, bahwa minyak jelantah ternyata nggak cuma langsung dibuang aja, tapi bisa dibuat jadi barang-barang berguna juga. Tadi kita juga baru tahu kalau ternyata bisa diubah menjadi lilin sama jadi sabun juga,” ujarnya.
Anggun berharap kegiatan serupa terus dilakukan dan semakin banyak pihak yang terlibat dalam edukasi lingkungan. Ia juga mengapresiasi Laksana Becik yang dinilainya konsisten mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
Sementara itu, Kepala SMP Kalam Kudus, Eri Triwati Sipayung, S.Pd., M.M., mengapresiasi kolaborasi bersama Laksana Becik. Ia berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut melalui program edukasi lainnya.
Menurutnya, kegiatan ini bukan semata-mata bertujuan menghasilkan produk dari minyak jelantah. Lebih dari itu, siswa diajak membangun kebiasaan baru dalam menjaga lingkungan, yang kemudian dapat diterapkan mulai dari rumah dan keluarga.
“Dengan melibatkan siswa secara langsung, pesan-pesan positif yang disampaikan dapat menjangkau lebih banyak orang melalui lingkungan keluarga dan masyarakat,” harapnya.
Melalui edukasi tersebut, minyak jelantah tidak lagi dipandang sekadar limbah yang harus dibuang. Dari tangan siswa, limbah rumah tangga itu dikenalkan sebagai sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan sekaligus menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan sejak dini. BWN-05

































