Mangupura, Baliwakenews.com
Bali kembali menjadi panggung pertemuan talenta digital dunia. Sebanyak 81 peserta dari 13 negara berkumpul di Legian, Badung, untuk menguji kemampuan menghadapi berbagai skenario serangan siber dalam kompetisi internasional Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026.
Kompetisi keamanan siber tersebut resmi dibuka Gubernur Bali Wayan Koster di Hotel Padma Resort, Legian, Kuta, Selasa (11/8/2026). Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Koster.
C2C-CTF 2026 berlangsung 10-14 Agustus 2026 dan diselenggarakan Universitas Indonesia (UI) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di bawah naungan International Cyber Security Center of Excellence (INCS-CoE).
Ajang ini bukan sekadar kompetisi teknis. Di tengah meningkatnya ancaman digital dan dinamika geopolitik global, C2C-CTF menjadi arena untuk menguji sekaligus memperkuat kemampuan generasi muda dalam menghadapi serangan siber yang semakin kompleks dan tidak mengenal batas negara.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar mengatakan perkembangan geopolitik dunia turut mendorong peningkatan ancaman siber lintas negara.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu kunci membangun ketahanan siber nasional.
“Pengembangan talenta menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan siber nasional,” demikian disampaikan Alexander dalam sambutan yang disampaikan secara daring.
Kemkomdigi, kata dia, mendukung C2C-CTF 2026 karena kompetisi tersebut mempertemukan mahasiswa dan peneliti keamanan siber dari berbagai negara. Mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga bertukar pengetahuan dan menguji kemampuan teknis dalam menghadapi berbagai skenario ancaman digital.
C2C-CTF 2026 diikuti 81 peserta dari Indonesia, Jepang, Australia, Hong Kong, Singapura, Bangladesh, Kamboja, Inggris, Kazakhstan, Laos, Filipina, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Sejumlah perguruan tinggi ternama dunia ikut mengirimkan perwakilan. Di antaranya University of Cambridge, Keio University Jepang, Royal Holloway University of London, Edith Cowan University Australia, The University of Melbourne, Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Indonesia.
Indonesia menjadi tuan rumah melalui Universitas Indonesia dengan menggandeng Universitas Udayana sebagai mitra pelaksana di Bali.
Rektor UI, Prof. Heri Hermansyah menyambut positif penyelenggaraan kompetisi tersebut. UI, kata dia, bangga dapat berpartisipasi aktif dalam menyukseskan ajang keamanan siber bertaraf internasional ini.
C2C-CTF memiliki rekam jejak internasional. Sebelum digelar di Bali, kompetisi ini telah berlangsung di sejumlah kampus ternama dunia, seperti Royal Holloway University of London, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Keio University Jepang, Edith Cowan University Australia, hingga Northeastern University di Boston.
Penyelenggaraan di Bali sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai bagian dari ekosistem kolaborasi keamanan siber global.
Program C2C-CTF sendiri merupakan bagian dari pengembangan Cyber Security Center of Excellence yang dibangun melalui kerja sama hibah Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).
Program tersebut telah berjalan selama enam tahun. Universitas Indonesia berperan sebagai pelaksana, sedangkan Kementerian Komunikasi dan Digital menjadi mitra pemerintah dalam pengembangannya.
Dengan mempertemukan talenta siber dari 13 negara dalam satu arena, C2C-CTF 2026 di Bali diharapkan tidak berhenti sebagai ajang adu kemampuan teknis. Kompetisi ini menjadi ruang membangun jejaring, memperkuat pertukaran pengetahuan, dan menyiapkan talenta yang mampu menghadapi ancaman keamanan digital di masa depan. BWN-03

































