Mangupura, baliwakenews com
Food, Hotel & Tourism Bali (FHTB) 2026 resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Senin (28/4/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-14, pameran internasional ini kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak industri perhotelan, makanan dan minuman, serta pariwisata berkelanjutan di kawasan Indonesia Timur.
Mengusung tema “A Sustainable Feast for the Future of Hospitality, Tourism and Food & Beverage”, FHTB 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 28 hingga 30 April 2026. Ajang ini menghadirkan lebih dari 200 perusahaan dari 14 negara, sekaligus menjadi wadah strategis bagi pelaku industri untuk menangkap peluang bisnis di tengah pertumbuhan sektor pariwisata Bali yang terus menguat.
Pembukaan FHTB 2026 dilakukan oleh Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali, Agung Bagus Pratiksa Linggih, didampingi Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, Portfolio Director FHTB Meysia Stephanie, serta Presiden Bali Culinary Professionals (BCP), Bayu Retno Timur.
Agung menegaskan, pariwisata Bali tidak dapat dilepaskan dari kekuatan budaya dan masyarakat lokal. Karena itu, pertumbuhan industri hospitality harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bali.
“FHTB telah terbukti menjadi wadah yang memberikan banyak peluang bagi pelaku usaha. Kehadirannya diharapkan terus mendorong pertumbuhan industri sekaligus memberdayakan masyarakat lokal,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, menilai FHTB berperan penting dalam memperkuat daya saing pariwisata Bali, terutama melalui sektor kuliner yang memiliki karakter unik dan potensi besar di pasar global.
“Kuliner Bali memiliki identitas kuat. FHTB sangat relevan dengan upaya mewujudkan pariwisata Bali yang berbudaya, berkualitas, dan bermartabat,” katanya.
Portfolio Director FHTB, Meysia Stephanie, mengungkapkan optimisme terhadap pasar Bali yang terus berkembang. Menurutnya, FHTB menjadi pintu masuk penting bagi pelaku bisnis global untuk menjangkau pasar Indonesia.
“Partisipasi ratusan perusahaan internasional menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap potensi Bali sebagai pusat pertumbuhan industri hospitality di Indonesia,” jelas Meysia.
Optimisme tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali yang mencatat pertumbuhan jumlah restoran mencapai 28,16 persen sepanjang 2025. Sementara itu, sekitar 65 persen belanja wisatawan di Bali dialokasikan untuk sektor makanan dan minuman.
Selain pameran produk dan layanan, FHTB 2026 juga menghadirkan berbagai kompetisi dan program edukasi. Salah satu yang paling dinanti adalah The 13th Salon Culinaire Bali yang kembali menghadirkan Dewata Gastronomy Challenge setelah vakum selama delapan tahun.
Presiden BCP, Bayu Retno Timur, menyebut ajang ini menjadi panggung bagi ratusan chef untuk menunjukkan kemampuan mereka di level internasional.
Lebih dari sekadar pameran bisnis, FHTB 2026 juga menempatkan keberlanjutan sebagai fokus utama. Berbagai inisiatif ramah lingkungan diterapkan, mulai dari pengelolaan limbah makanan, pengumpulan minyak jelantah, penyediaan stasiun isi ulang air minum, hingga penggunaan booth modular yang dapat digunakan kembali.
Marketing Communication Manager FHTB 2026, Leonarita Hutama, mengatakan seluruh sampah makanan selama pameran akan diolah menjadi pupuk dan pakan ternak melalui kolaborasi dengan mitra pengelola limbah.
“FHTB ingin meninggalkan dampak positif, tidak hanya bagi industri tetapi juga bagi lingkungan dan masyarakat,” ungkapnya.
Dengan rangkaian seminar, workshop, business matching, hingga program edukasi tentang praktik bisnis berkelanjutan, FHTB 2026 diharapkan terus menjadi katalisator transformasi industri hospitality menuju masa depan yang lebih hijau, inovatif, dan kompetitif. BWN-04


































