Mangupura, baliwakenews.com
Deru mesin alat berat terdengar nyaring di sekitar alur Tukad Mati, Kuta. Di antara tumpukan lumpur dan endapan setebal hampir dua meter, sejumlah pekerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Badung terus berjibaku. Truk-truk besar keluar masuk membawa muatan sedimen yang diangkut dari sungai yang lama dikenal bermasalah dengan banjir dan pencemaran ini.
Sudah dua pekan lebih pekerjaan berlangsung. Hingga Selasa (30/9/2025) malam, sedikitnya 500 truk berisi endapan berhasil diangkut keluar. “Per hari kurang lebih 40 truk. Jadi silakan kalikan sendiri, sudah cukup banyak yang kami angkat,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Badung, AA Rama Putra, Rabu (1/10/2025).
Namun, pekerjaan besar ini baru menyentuh sekitar 100 meter alur Tukad Mati, tepatnya dari titik trashrake Sunset Road. “Sedimennya sangat banyak, rata-rata ketebalan mencapai dua meter,” tambah Rama Putra.
Untuk menggarap pengerukan, PUPR mengerahkan tiga alat berat: sebuah amphibi untuk mengeruk sungai, spider untuk mengangkat sedimen ke truk, dan dozer untuk mengatur pembuangan di lokasi penimbunan lahan warga di Jalan LC Baik Baik. Lumpur yang semula hanya menumpuk di aliran kini justru membantu warga yang lahannya butuh timbunan.
Pembersihan Tukad Mati bukan sekadar proyek teknis. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa menegaskan kegiatan ini sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko banjir, sekaligus bagian dari kerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida. “Di hulu Tukad Mati kami kerjakan, sementara hilir akan ditangani BWS,” terang Rama Putra.
Bagi warga sekitar, pemandangan sungai yang dikeruk ini menghadirkan harapan. Selama bertahun-tahun Tukad Mati identik dengan luapan banjir yang menenggelamkan jalan dan pekarangan.
“Kendalanya hanya satu, sampah. Kalau masih banyak yang buang sembarangan, sungai ini akan cepat penuh lagi,” tutur Rama Putra.
Di tengah gencarnya deru alat berat dan hilir mudik truk, Tukad Mati perlahan mulai kembali “bernapas”. Namun, masa depan sungai ini tak hanya bergantung pada pemerintah dan mesin pengeruk, melainkan juga pada kebiasaan warga yang hidup di sekitarnya. BWN-04.































