Gianyar, baliwakenews.com
Universitas Warmadewa (Unwar) terus menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat dengan mendampingi Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, dalam penerapan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) berbasis digital. Kegiatan sosialisasi SKM resmi dibuka oleh Kepala Desa Lebih, I Wayan Agus Muliana, S.AP, pada Jumat (29/8/2025) di Kantor Desa Lebih.
Dalam sambutannya, Agus Muliana menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Unwar yang dinilai mampu membantu desa menghadirkan inovasi pelayanan publik.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi warga. Kehadiran tim pengabdian dari Universitas Warmadewa sangat membantu kami dalam menghadirkan inovasi survei digital agar masyarakat bisa lebih mudah menyampaikan penilaian,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Drs. I Wayan Sudemen, M.Si, Dosen Administrasi Publik Unwar, yang menekankan peran desa sebagai garda terdepan pelayanan publik. Ia menegaskan bahwa evaluasi pelayanan harus bersumber langsung dari masyarakat, bukan dari aparat desa sendiri.
“Yang berhak menilai pelayanan desa adalah masyarakat, bukan aparatnya sendiri. Karena itu, survei kepuasan masyarakat sangat penting untuk mengetahui apakah pelayanan sudah baik atau masih perlu perbaikan,” tegasnya.
Sudemen menjelaskan, SKM mencakup berbagai aspek mulai dari persyaratan, prosedur, waktu pelayanan, biaya, hingga kompetensi dan perilaku aparat. Hasil survei nantinya akan menjadi dasar evaluasi dan perbaikan kualitas layanan publik desa.
Sebagai bentuk dukungan nyata, tim pengabdian Unwar juga menyerahkan mesin survei yang dirancang sederhana dan mudah digunakan masyarakat. Uji coba awal melalui Google Form telah diikuti 11 responden dengan skor kepuasan cukup tinggi, terutama pada aspek sarana prasarana dan kinerja staf desa. Meski demikian, tim menekankan perlunya peningkatan partisipasi warga agar hasil survei lebih representatif.
Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menyoroti pentingnya pencatatan identitas responden, seperti umur, pendidikan, dan pekerjaan, guna memetakan profil masyarakat yang berpartisipasi. Selain itu, muncul usulan agar desa mendapatkan pendampingan lebih lanjut terkait pengelolaan website yang masih menghadapi kendala teknis.
Menutup kegiatan, Sudemen menyatakan harapannya agar inovasi ini menjadi langkah awal perbaikan pelayanan publik berbasis partisipasi dan transparansi.
“Kami akan terus mendampingi, mulai dari sosialisasi hingga penerapan aplikasi. Semoga Desa Lebih dapat menjadi contoh dalam pengelolaan pelayanan publik yang partisipatif dan transparan,” tandasnya.BWN-09
































