Denpasar, baliwakenews.com
Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis (17/5), menjadi saksi pertunjukan seni kolosal bertajuk Pasir Ukir yang memikat ribuan penonton dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke 47 tahun 2025. Garapan dari para seniman muda Kabupaten Badung ini menyuguhkan pertunjukan berbasis tradisi yang dikemas dengan pendekatan kontemporer dan sarat pesan lingkungan.
Selama hampir satu jam, Pasir Ukir menuturkan kisah fiksi tentang dua anak kembar, Pasir dan Ukir yang lahir dari cahaya Ibu Pertiwi. Pasir berasal dari lautan, Ukir dari gunung. Mereka dipisahkan sejak lahir dan dipertemukan kembali oleh takdir untuk mengemban misi penyelamatan bumi dari bencana sampah perkotaan.
Pertunjukan memadukan tari tradisional dan modern, iringan musik live, hingga penggunaan tata cahaya dan visual yang dinamis. Perpaduan unsur-unsur ini menciptakan atmosfer magis yang membuat panggung seolah hidup dan menghipnotis penonton dari awal hingga akhir.
Ketua Umum Seniman Badung, Kadek Karunia Artha, menjelaskan bahwa karya ini terinspirasi dari bentuk topografi Kabupaten Badung yang terdiri dari wilayah pegunungan di utara dan lautan di selatan. Keduanya dimaknai sebagai simbol kekerthian atau keseimbangan yang menjadi ruh utama dalam pementasan ini.
“Gunung adalah simbol ketahanan pangan dan laut adalah sumber ekonomi pariwisata. Dalam semangat Jagat Kerthi, kita ingin menanamkan kembali pentingnya menjaga keseimbangan alam,” jelasnya.
Pasir Ukir menyampaikan kritik sosial secara halus namun kuat. Isu utama yang diangkat adalah permasalahan sampah yang kian mengancam lingkungan hidup. Pesannya jelas: menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif, bukan semata tugas pemerintah.
Proses kreatif pertunjukan ini berlangsung selama tiga bulan dan melibatkan 120 seniman muda, termasuk 45 penari, 45 penabuh, serta tim produksi. Tantangan dalam menyatukan seluruh unsur pertunjukan tak menyurutkan semangat para pelaku seni muda ini untuk memberikan penampilan terbaik.
Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap pertunjukan tersebut. Ia bahkan meminta Pasir Ukir untuk kembali tampil di Festival Bali Jani karena dinilai mampu menginspirasi banyak pihak.
“Temanya sangat luar biasa. Karya ini layak dipentaskan kembali di ajang yang lebih luas,” ujar Wagup asal Kabupaten Badung tersebut. BWN-05/Kominfo
































