Mangupura, baliwakenews.com – Malam itu, jalanan Dukuh Sari II di Kuta Selatan sepi seperti biasa. Tak ada yang menyangka, di tengah kesunyian itu, darah dan air mata akan tumpah. Ajeng Indri Septiana, perempuan muda asal Lumajang, baru saja pulang dari tempat kerjanya di Canggu. Mengendarai sepeda motor seorang diri, pikirannya mungkin hanya dipenuhi keinginan untuk segera sampai rumah.
Namun tanpa disadari, ada seseorang yang membuntuti. Diam-diam, dari kejauhan, bayang dendam mengikuti di balik lampu jalan yang redup. Guntur, mantan kekasihnya, diam-diam mengintai. Bukan lagi kekasih yang dulu menatap dengan kasih dan malam itu, ia datang membawa pisau, dendam, dan luka lama yang belum sembuh.
Di sebuah pertigaan, saat Ajeng menepi dan menunduk mengecek ponselnya, Guntur datang dari belakang. Tanpa sepatah kata, pisau sepanjang 20 sentimeter itu menghujam punggung Ajeng. Satu… dua… tiga kali. Sunyi malam pecah oleh jeritan. Darah membasahi aspal. Tubuh Ajeng limbung.
Tak puas, Guntur sempat kembali, mencoba menyerang dari arah depan. Namun teriakan Ajeng membangunkan malam. Seorang pria bernama Yogi yang melintas, sigap menolong. Ia membawa Ajeng yang bersimbah darah ke RS Bali Mandara di Sanur.
Di ruang gawat darurat, di bawah sorot lampu putih yang dingin, Ajeng disambut kekasih barunya, Fernando Miko Pratama. Di matanya, kekasih yang kini terbaring itu bukan hanya korban luka, tapi korban dari kisah cinta yang berubah menjadi bencana.
Tiga hari setelah kejadian, Jumat, 27 Juni 2025, polisi menangkap Guntur di sebuah bedeng proyek di kawasan Canggu, Kuta Utara. Ia tak melawan. Dalam interogasi, ia mengakui segalanya, bahwa tusukan itu adalah luapan sakit hati karena merasa diabaikan dan tidak dihargai oleh Ajeng.
Guntur bukan pria yang asing bagi hukum. Ia pernah menjadi narapidana kasus pil koplo di Jawa Timur. Kini, satu kisah kelam kembali tercatat dalam hidupnya, bukan karena narkoba, melainkan karena cemburu yang berujung pada penganiayaan berat.
Polisi mengamankan barang bukti berupa sebilah pisau putih dan jaket hitam yang digunakan saat kejadian. Guntur kini mendekam di balik jeruji Mapolsek Kuta Selatan, sementara Ajeng berusaha memulihkan diri, bukan hanya dari luka fisik, tetapi juga dari luka batin yang jauh lebih dalam. BWN-07
































