Denpasar, baliwakenews.com
Andai saja tidak dirawat dan ditampung yayasan, entah bagaimana nasib para balita yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Bayi dan Balita malang tersebut kini bisa tumbuh kembang seperti bayi pada umumnya karena dirawat dan dijaga oleh para perawat yang kompeten di Yayasan Sayangi Bali.
Yang membuat pilu, tidak hanya balita dengan kondisi sehat pisik saja yang ditampung, akan tetapi balita yang berkebutuhan khusus juga dirawat di yayasan yang berlokasi di Jalan Subak Dalem No. 5 Peguyangan, Denpasar Utara, Bali itu.
Di tengah keterbatasan dana dan uluran tangan, pihak yayasan tetap ikhlas merawat balita-balita tersebut. Dan selama ini, untuk biaya makan, pakaian, alat bermain dan operasional lainnya, pihak yayasan hanya mengandalkan donatur tidak tetap.
Ketua Yayasan Dewa Putu Wirata, beserta tiga orang perawat, nampak bermain sambil menggendong para balita yang ditampung di yayasan. Rasa sedih dan prihatin langsung tersirat di hati. Terutama saat melihat dua orang balita yang duduk di kursi roda. Amel dan Bima, nama kedua balita tersebut. Mereka adalah dua dari tiga balita yang berkebutuhan khusus.
Amel dengan kondisi cacat kaki dan tangan yang tidak bisa bertumbuh dari bayi. Meski sudah empat kali menjalani operasi, kondisi kaki dan tangan Amel belum sempurna. Setelah menjalani sejumlah operasi yang dibiayai oleh para donatur, kaki Amel sudah mulai terbentuk, hanya saja belum berfungsi. Dan saat ini, balita perempuan itu hanya mampu berguling-guling di atas tempat tidur. Untuk duduk, Amel harus bersandar di kursi roda. Walau demikian mental dan motorik Amel, berkembang baik sehingga pihak yayasan kerap mengikutkan Amel dalam lomba bernyanyi. Amel juga dilatih bermain piano, meski dalam posisi tidur.
Sementara Bima, kondisinya jauh lebih memprihatinkan dari Amel. Saat lahir, Bima sempat koma selama 15 hari. Yang mengakibatkan syarafnya terganggu. Kini, Bima mengalami gangguan perkembangan kaki, tangan dan bicaranya tidak sempurna. “Tak hanya itu, yang membuat sedih Bima setiap hari harus minum obat syaraf dan tidak boleh putus. Termasuk seminggu tiga kali Bima wajib menjalani fisioterapi,” kata Dewa Putu Wirata.
Selain Amel dan Bima, anak berkebutuhan khusus lainnya yang dirawat di yayasan bernama Mahasudi. Balita itu mengalami kelainan mata. Sedangkan kondisi fisik lainnya normal. Selain ketiganya, yayasan merawat lima bayi dan dua balita lainnya.
Menurut Dewa Putu Wirata, Yayasan Sayangi Bali beroperasi dari tahun 2011. Dan pembangunan yayasan tersebut dilatarbelakangi dari banyaknya terjadi pembuangan bayi di pulau dewata.
Dikatakan setiap anak memiliki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang mendapatkan kasih sayang dari keluarga. Namun sayangnya belakangan banyak orang tua yang merenggut hak – hak mereka. Banyak bayi ditemukan dibuang di tong sampah, di jalan, di tanah kosong dan sebagainya. “Ada yang ditemukan dalam keadaan hidup, namun tak jarang yang ditemukan sudah meninggal dunia,” ucap Dewa Putu Wirata, dengan wajah sedih.
Dijelaskannya, Yayasan Sayangi Bali satu-satunya di Bali yang merawat bayi terlantar. Dewa Putu Wirata, mengaku sangat prihatin, dari tahun ke tahun selalu saja ada bayi yang dibuang atau ditinggalkan orang tuanya setelah dilahirkan di rumah sakit.
Dituturkan, Yayasan berdiri dilandasi keprihatinan atas keadaan maraknya pembuangan bayi pada waktu itu. Pada saat itu Dinas Sosial Provinsi Bali tidak ada tempat perawatan untuk bayi terlantar, sehingga yayasan ini hadir sebagai solusi.
Awalnya ada penemuan bayi yang kondisinya cukup parah, setelah empat bulan dirawat di rumah sakit bayi sudah boleh keluar dari rumah sakit. Namun Dinas Sosial Provinsi Bali tidak ada tempat perawatan khusus untuk bayi terlantar. Sehingga pihaknya dihubungi dan ditanyakan kesediaan untuk merawat bayi.*BWN-03






























