Singaraja, Baliwakenews.com
Persaingan sepak bola di Bali Utara kembali memanas. Bupati Cup 2026 yang digelar Askab PSSI Buleleng bukan sekadar turnamen antarklub, tetapi menjadi panggung perburuan pemain terbaik yang akan diproyeksikan memperkuat Buleleng pada Porprov Bali.
Kejuaraan Sepakbola Bupati Cup 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11-22 Oktober 2026 di Stadion Mayor Metra, Singaraja. Sebanyak delapan klub dari tiga kasta kompetisi resmi Askab PSSI Buleleng akan ambil bagian.
Empat klub berasal dari Liga 1 PSSI Buleleng, yakni Amartha FC Patas, Putra Devata Pakisan, Putra Kubutambahan FC, dan Satria Muda Pengulon.
Sementara dari Liga 2, dua klub yang ikut bertanding adalah Teja Harum Tejakula dan Tunas Harapan Pengastulan. Sedangkan Liga 3 diwakili Intan Jaya FC Celukan Bawang dan Sukla Bali FC Sumberklampok.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa Askab PSSI Buleleng sengaja membuka ruang pencarian bakat lebih luas. Pemain potensial tidak hanya diburu dari kasta tertinggi, tetapi juga dari kompetisi Liga 2 dan Liga 3.
Ketua Umum Askab PSSI Buleleng, Gede Suyasa, mengatakan Bupati Cup merupakan tindak lanjut dari arahan KONI Buleleng untuk memantau sekaligus menjaring pemain yang memiliki potensi memperkuat tim Buleleng pada ajang Porprov Bali.
“Sesuai dengan arahan dan program KONI, setiap tahun kami menjalankan program Kejuaraan Bupati Cup ini. Dari undangan yang kami sebar, ada 4 klub Liga 1, 2 klub Liga 2, dan 2 klub Liga 3 yang menyatakan siap bertanding,” terang Suyasa, Minggu (4/10/2026).
Bukan Sekadar Gengsi Antarklub
Bupati Cup 2026 juga menjadi kesempatan bagi para pemain untuk menunjukkan kualitas di hadapan tim pemandu bakat.
Askab PSSI Buleleng sebenarnya tidak hanya mengandalkan Bupati Cup. Pemantauan juga dilakukan terhadap turnamen independen yang digelar komunitas maupun kelompok masyarakat.
Namun, Bupati Cup tetap menjadi salah satu barometer utama dalam proses seleksi pemain daerah Buleleng.
Menariknya, Askab PSSI Buleleng sengaja mempertemukan klub dari kasta berbeda. Klub Liga 1 disilangkan dengan juara maupun runner-up dari Liga 2 dan Liga 3.
Pertimbangan tersebut didasarkan pada kesiapan klub sekaligus potensi talenta yang tersebar di berbagai tingkatan kompetisi.
Menurut Suyasa, perbedaan kualitas teknis pemain di papan atas Liga 1, Liga 2 dan Liga 3 Buleleng tidak terlalu jauh. Karena itu, membatasi pencarian pemain hanya dari kasta tertinggi dinilai berisiko membuat talenta potensial terlewat.
“Kami tidak ingin membatasi hanya untuk Liga 1. Jangan-jangan ada pemain yang sangat potensial di Liga 2 dan Liga 3 yang justru luput jika tidak diundang. Melibatkan mereka membuat jangkauan pencarian bakat kami jauh lebih luas,” tegasnya.
Liga 2 dan Liga 3 Bisa Jadi Ancaman
Format Bupati Cup 2026 sekaligus menghadirkan tantangan tersendiri bagi klub-klub Liga 1.
Di atas kertas, klub kasta tertinggi tentu lebih diunggulkan. Namun, jika klub Liga 2 atau Liga 3 mampu menumbangkan klub Liga 1, hasil tersebut akan menjadi sinyal bahwa talenta terbaik tidak selalu berada di kasta teratas.
Bagi Askab PSSI Buleleng, situasi tersebut justru menjadi bagian penting dari evaluasi pembinaan sepak bola di daerah.
“Kalau nanti ada klub Liga 1 yang justru kalah dari klub Liga 2 atau Liga 3, itu menjadi tamparan gengsi. Artinya proses pembinaan di klub tersebut kurang kontinu. Ini jadi evaluasi penting bagi klub-klub kasta utama agar tidak mengendurkan pola pembinaan. Namun sekali lagi, fokus utama kami adalah mendapatkan bibit pemain terbaik untuk Buleleng,” pungkas Suyasa.
Dengan demikian, Bupati Cup 2026 bukan hanya soal siapa yang keluar sebagai juara. Lebih dari itu, turnamen ini menjadi ruang seleksi terbuka bagi para pemain Buleleng untuk membuktikan kemampuan.
Dari Stadion Mayor Metra, Singaraja, delapan klub akan membawa ambisi masing-masing. Namun di balik persaingan tersebut, Askab PSSI Buleleng memburu satu hal yang lebih penting: talenta terbaik Bali Utara untuk membawa nama Buleleng di Porprov Bali. BWN-03
































